Waktu terus berjalan dan detik tak akan pernah berdetak mundur.
Hari-hari-pun berlalu dan pagi selalu menawarkan sesuatu yang berbeda.
Entah mentari hari ini akankah sama dengan mentari hari kemarin.
Semua terdiam takkala Tuhan bersumpah demi waktu.
Maha Adil Tuhan yang telah memberikan waktu yang sama.
Tanpa beda, tanpa cela, tanpa kurang ataupun lebih barang sedetikpun.
Isi hari dengan makna.
Maknai hari dengan cita.
Citakan angan menjadi kenyataan.
Dan syukuri kenyataan dengan berbagi.
Hari ini.
Hayati segala yang terjadi.
Resapi goresan makna yang ada.
Syukuri apa yang didapat.
#PelajaranHariIni
#BlessedDayAsAlways
Ada apa aja sih??
- Bukan Puisi (5)
- Catatan Kaki (2)
- Civil-Eng® Corner (4)
- Jeprat-Jepret (6)
- Love Earth (2)
- Refleksi (20)
- Sekedar Kutipan (16)
- Utak-Atik-Asix (5)
Tampilkan postingan dengan label Bukan Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bukan Puisi. Tampilkan semua postingan
Senin, 10 November 2014
Sabtu, 18 Februari 2012
Coretan kecil karya penyair lawas:
oleh: Kahlil Gibran*
Kutegur jiwa tujuh kali!!
Yang Pertama: ketika aku berupaya meninggikan diri sendiri dengan mengeksploitasi yang lemah.
Yang Kedua: ketika aku timpang dihadapan mereka yang lumpuh
Yang Ketiga: ketika diberi pilihan, aku lebih memilih yang mudah ketimbang yang sulit
Yang Keempat: ketika aku membuat kekeliruan, lantas kuhibur diri sendiri dengan kekeliruan orang lain
Yang Kelima: ketika aku bersikap jinak ketakutan, kemudian mengklaim diri ini kuat dalam kesabaran
Yang Keenam: ketika ku angkat pakaian ku untuk menghindari lumpur kehidupan
Yang Ketujuh: ketika aku berdiri dan menyanyikan nyayian bagi Tuhan dan aku anggap hanya itulah satu-satunya nyayian kebajikan
----------
*) Kahlil Gibran, penyair asal Lebanon yang lama menetap di Amerika Serikat. Lahir di Lebanon pada masa khilafah Turki Ustmani tahun 1883 dan tutup usia di New York, Amerika Serikat tahun 1931.
Catatan kaki disadur dari: http://id.wikipedia.org/wiki/Kahlil_Gibran
Kutegur jiwa tujuh kali!!
Yang Pertama: ketika aku berupaya meninggikan diri sendiri dengan mengeksploitasi yang lemah.
Yang Kedua: ketika aku timpang dihadapan mereka yang lumpuh
Yang Ketiga: ketika diberi pilihan, aku lebih memilih yang mudah ketimbang yang sulit
Yang Keempat: ketika aku membuat kekeliruan, lantas kuhibur diri sendiri dengan kekeliruan orang lain
Yang Kelima: ketika aku bersikap jinak ketakutan, kemudian mengklaim diri ini kuat dalam kesabaran
Yang Keenam: ketika ku angkat pakaian ku untuk menghindari lumpur kehidupan
Yang Ketujuh: ketika aku berdiri dan menyanyikan nyayian bagi Tuhan dan aku anggap hanya itulah satu-satunya nyayian kebajikan
*) Kahlil Gibran, penyair asal Lebanon yang lama menetap di Amerika Serikat. Lahir di Lebanon pada masa khilafah Turki Ustmani tahun 1883 dan tutup usia di New York, Amerika Serikat tahun 1931.
Catatan kaki disadur dari: http://id.wikipedia.org/wiki/Kahlil_Gibran
Minggu, 04 Desember 2011
Tipu & Fitnah
Saat mata menipu hati
Bila pandang mengganggu tenang
Ku yakin mata ini t'lah menggoyahkan hati
Tak kuasa pandangan mengganggu tenang
Rasa yang dipupuk,
Perasaan yang menumpuk
Yakin ku, ini pasti tipu daya pandang
Fitnah mata ku rasa luar biasa
Mata memfitnah hati
Pandang memfitnah rasa
Ku harap fitnah ini tak sentuh nurani
Karna nurani tak kuasa ku dustai...
Suatu saat nanti,
Pasti kan ku temui seorang yang takkan menipu mata
Seorang yang takkan memfitnah hati
Seorang yang takkan mendusta nurani
(ditulis tanggal 18Apr2008 / 11RblAkh1429)
Bila pandang mengganggu tenang
Ku yakin mata ini t'lah menggoyahkan hati
Tak kuasa pandangan mengganggu tenang
Rasa yang dipupuk,
Perasaan yang menumpuk
Yakin ku, ini pasti tipu daya pandang
Fitnah mata ku rasa luar biasa
Mata memfitnah hati
Pandang memfitnah rasa
Ku harap fitnah ini tak sentuh nurani
Karna nurani tak kuasa ku dustai...
Suatu saat nanti,
Pasti kan ku temui seorang yang takkan menipu mata
Seorang yang takkan memfitnah hati
Seorang yang takkan mendusta nurani
(ditulis tanggal 18Apr2008 / 11RblAkh1429)
Sabtu, 03 Desember 2011
Petang
Petang...
Tetap indah walau tanpa bintang
Saat di mana sang surya harus pulang
Bersiap tuk cerahkan siang
Mengapa jiwa ku guncang
Di tengah indahnya petang
Ku tak tahu mengapa ini datang
Terdesak di lubuk hingga meradang
Ku berdoa pada Pemilik Petang
Tentang hati ku yang kian guncang
Ku tak mengerti mengapa ini datang
Di lubuk hati yang kian meradang
Harap ku ini tak lama meradang
Pinta ku ini tak kian guncang
Harap ku pada Pemilik Petang
Harap ku pada Sang Pemilik Terang
(ditulis tanggal 2Nov2007 / 21Syaw1428)
Tetap indah walau tanpa bintang
Saat di mana sang surya harus pulang
Bersiap tuk cerahkan siang
Mengapa jiwa ku guncang
Di tengah indahnya petang
Ku tak tahu mengapa ini datang
Terdesak di lubuk hingga meradang
Ku berdoa pada Pemilik Petang
Tentang hati ku yang kian guncang
Ku tak mengerti mengapa ini datang
Di lubuk hati yang kian meradang
Harap ku ini tak lama meradang
Pinta ku ini tak kian guncang
Harap ku pada Pemilik Petang
Harap ku pada Sang Pemilik Terang
(ditulis tanggal 2Nov2007 / 21Syaw1428)
Sebuah Perjalanan Malam
Berjalan ku di kegelapan malam
Tanpa buaian sinar bintang
Harap ku ini tak kunjung kelam
Hingga Ia datangkan siang
Hidup ini bagai alur
Hidup ini punya jalur
Takkan pernah hidup ini tanpa alur
Takkan mungkin hidup ini tak punya jalur
Sejenak ku tudukkan kepala
Merenung, memahami tujuan hidup ini
Termenung, memaknai segala yang t'lah ku lalui
Tak urung, mengerti apa yang akan ku hadapi
(ditulis tanggal 29Nov2007 / 19Dzul1428)
Tanpa buaian sinar bintang
Harap ku ini tak kunjung kelam
Hingga Ia datangkan siang
Hidup ini bagai alur
Hidup ini punya jalur
Takkan pernah hidup ini tanpa alur
Takkan mungkin hidup ini tak punya jalur
Sejenak ku tudukkan kepala
Merenung, memahami tujuan hidup ini
Termenung, memaknai segala yang t'lah ku lalui
Tak urung, mengerti apa yang akan ku hadapi
(ditulis tanggal 29Nov2007 / 19Dzul1428)
Langganan:
Postingan (Atom)