Ada apa aja sih??

Tampilkan postingan dengan label Refleksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Refleksi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 18 Agustus 2017

Kesempatan dan Ketakutan

Yap.

Kesempatan dan ketakutan. Chance and fear.

Ada suatu kisah unik dari judul di atas.
Judul di atas saya ambil berdasarkan pada tulisan / sablonan pada kaos yang dikenakan seseorang yang tidak sengaja bertemu dalam perjalanan saya pulang tempo hari. Saya tidak mengenal siapa orang itu, latar belakang orang tersebut dan saya juga tidak sempat mendokumentasikan kaos tersebut dalam bentuk foto. Semua terjadi begitu saja dan tiba-tiba.

Hal yang saya ingat adalah warna dasar kaos yaitu hijau dan tulisan / sablonan pada kaos tersebut yang berbunyi: “TAKE EVERY CHANCE, FACE EVERY FEAR!”.

Ya, jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, maka tulisan sablonan pada kaos tadi akan berbunyi: “AMBILAH TIAP KESEMPATAN, HADAPI TIAP KETAKUTAN!”. Jika dilengkapi, maka frasa tadi akan menjadi “ambilah tiap kesempatan yang ada dan hadapi tiap ketakutan yang menghadang!”.

Jika dilihat dari pilihan kata, maka dapat kita saksikan bahwa kesempatan akan dipasangkan dengan ketakutan. Kemudian saya bertanya dalam hati: “apakah benar bahwa tiap ada kesempatan, maka di situ pula terdapat ketakutan?”

Jawaban yang akan muncul pasti akan sangat beragam. Sesuai dengan keadaan, pola pikir dan latar belakang orang yang menjawab. Awalnya memang saya tidak sadar sama sekali bahwa kesempatan dan ketakutan itu adalah dua hal yang dikemas dalam satu wadah. Ya, satu wadah yang disegel; dalam artian kita harus memboyong wadah tersebut beserta kedua isi di dalamnya, kita tidak dapat hanya mengambil salah satu isinya saja dan kemudian meninggalkan isi lainnya. Suka atau tidak suka, maka kedua isi dalam wadah tadi memang harus dibawa bersama. Bila ditarik balik kepada kesempatan-kesempatan yang saya lalui maupun saya lewati, pasti akan terbesit rasa takut dalam hati.

Misalkan, jika ada kesempatan bekerja, melanjutkan mimpi yang tertunda (berwirausaha maksudnya :-)) atau berkenalan dengan orang baru; maka biasanya akan terbesit rasa ketakutan akan penolakkan (oleh pihak pemberi kerja atau klien atau orang baru), kerugian, kegagalan dan hal negatif lainnya. Padahal, hal negatif tersebut baru sebatas perasaan saja, baru sebatas angan atau khayalan, baru sebatas pernyataan “jika-maka”, baru sebatas peluang kejadian, baru sebatas praduga dan pada intinya hal-hal negatif tersebut sama sekali belum terjadi tapi aura-nya sudah terasa.

Berbeda ceritanya jika hal negatif tersebut sedang atau sudah terjadi, maka masih terdapat kemungkinan untuk memperbaikki kondisi dengan menerapkan rencana-rencana cadangan. Tiap kesempatan yang ada akan dibarengi dengan ketakutan yang (mungkin) akan menghadang.

Ya, kesempatan dan ketakutan akan selalu datang, tak terpisahkan; bahkan hampir mustahil memisahkan kesempatan dan ketakutan.

Stay awake, stay sharp and feel every gift that God rewards to us every single day.

Sekian.
#SemogaBermanfaat

Selasa, 15 Agustus 2017

Disiplin dan Konsistensi

Ya.

Disiplin dan konsistensi.

Dua kata singkat dan menurut saya penuh dengan makna. Mengetikkan dua kata tersebut merupakan hal yang jauh lebih mudah dibandingkan dengan mengamalkan makna dari dua kata itu. Ya, bagi saya, mengamalkan disiplin dan konsistensi bukan merupakan urusan yang sederhana dan dapat selesai dalam tempo satu malam tanpa kesalahan. Sampai tulisan ini di-post, saya belum sempurna dalam pengamalan dua kata tersebut.

#disiplin

Disiplin akan menuntut seseorang untuk mematuhi aturan yang sudah dibuat. Kepatuhan yang penuh kesadaran dan tanpa paksaan. Kepatuhan terhadap siapa dan apa? Ya. Minimal kepatuhan terhadap tujuan yang sudah direncanakan. Jika kepatuhan kepada diri sendiri saja sulit untuk dilaksanakan, maka jangan berharap untuk mematuhi hal lain di luar sana. Disiplin sering kali dipaketkan dengan hukuman. Jika terjadi ketidakpatuhan terhadap tujuan, maka patutlah menghukum diri sendiri.

#konsistensi

Bagaimana untuk konsistensi? Ya, konsistensi merupakan sebuah kebiasaan melakukan sesuatu hal dengan cara yang sama sepanjang waktu. Konsistensi akan melahirkan kebiasaan atau habit. Bisa kebiasaan baik ataupun buruk. Menanam hal baik, maka bersiaplah untuk memanen hal baik pula dan begitupula sebaliknya.

#jadi

Disiplin dan konsistensi dapat diterapkan untuk berbagai hal dan dua kata tersebut dapat menjadi kunci keberhasilan dari hal / tujuan yang ingin dicapai.
Misalkan, kita ingin melakukan diet sehat dengan tujuan untuk mencapai nilai body-mass index (BMI) yang sehat (tidak kurus dan tidak obesitas). Kemudian, langkah selanjutnya adalah dengan menyusun rencana diet dan olahraga harian, mingguan serta bulanan. Penyusunan rencana tadi pastinya akan menyesuaikan dengan tujuan yang diinginkan. Katakan tujuannya adalah menurunkan berat bada 10 kg dalam waktu 6 bulan. Yang akan terjadi adalah:

  • Porsi makan dan jumlah asupan gizi akan direvisi sesuai dengan rencana
  • Olahraga akan dikerjakan secara rutin minimal 1 jam per hari, olahraga sederhana di weekdays dan olahraga yang sedang sampai berat di weekend
  • Kebiasaan mengkonsumsi kudapan yang kurang sehat akan berkurang drastis
  • Dan hal lainnya

-                   
Semua poin di atas harus dilakukan dengan disiplin dan konsisten. Disiplin tanpa konsistensi akan menghasilkan semangat yang hanya membara di awal saja, kemudian setelah itu target meleset tanpa arah. Sedangkan konsistensi tanpa kedisiplinan akan menjadikan rencana hanya sebatas wacana saja, tanpa aksi nyata.

Maka dari itu, kombinasi disiplin dan konsistensi akan menjadi kunci keberhasilan dalam menggapai tujuan.

Stay awake, stay sharp and focus.
#SemogaBermanfaat

😊

Jumat, 28 Juli 2017

Merencanakan Kegagalan

Merencanakan kegagalan?
Serius? Kalian sedang bercanda kan?

Ya, merencanakan kegagalan. Saya serius.
Terdengar aneh? Ya, mungkin ada yang mendengar bahwa pernyataan judul di atas terdengar aneh.
Anda sehat? Ya, saya sehat dan dengan sadar menulis tulisan dengan judul tersebut.

#Yap

Di saat sebagian besar orang justru menargetkan keberhasilan / kesuksesan dalam hidup, mereka-pun merencanakan dengan baik dan detail untuk meraih keberhasilan / kesuksesan tersebut. Tujuan mereka jelas, keberhasilan dan kesuksesan. Terus, kenapa harus merencanakan kegagalan?

Ya. Seperti halnya keberhasilan, kegagalan setidaknya harus direncanakan pula. Karena hidup ini tidak selamanya mengenai kemenangan / keberhasilan / kesuksesan / kesenangan, tetapi ada hal-hal lain yang berlawanan dengan deretan kata tersebut. Selain kemenangan / keberhasilan / kesuksesan / kesenangan, dalam hidup juga ada fase kekalahan / kegagalan / kerugian / kesedihan.

Kegagalan memang bukan hak prerogatif para pecundang saja. Nah, di sini lah letak perbedaan dalam hal penyikapan kondisi kegagalan. Ada orang yang menganggap kegagalan adalah akhir dari segalanya; ada yang menganggap sebagai batu loncatan; ada yang menganggap sebagai tumbal / kesialan; ada pula orang yang menganggap sebagai lahan pembelajaran. Semua kembali ke pola pikir masing-masing.

Ada sebuah kejadian di mana terjadi “gagal fokus” dalam menyikapi kegagalan. Salah satunya adalah (dan kebetulan sayang mengalami juga) membandingkan kondisi kita yang dalam kondisi gagal dengan orang lain yang tidak gagal atau dengan kata lain: sudah sukses di mata kita. Sikap membanding-bandingkan ini bisa muncul dari pemikiran sendiri dan/atau merupakan respon dari perlakuan orang lain. Yang parah adalah kombinasi dari kedua kejadian tersebut. Di satu sisi pola pikir kita memang sedang dalam kondisi “gagal fokus” dalam menyikapi kegagalan, kemudian diperparah dengan intimidasi (nyinyir-an) dari keluarga / kerabat / kawan. Kondisi yang menurut saya sangat luar biasa. Ya, LUAR BIASA.

#KembaliKeLaptop

Eh kembali ke pembahasan merencanakan kegagalan maksudnya.

Ya. Jadi, untuk itulah esesnsi perencanaan kegagalan. Persiapan mental gagal yag sudah lebih dahulu dikuatkan jikalau kegagalan menghampiri. Setidaknya, jika ada intimidasi / tekanan / nyinyir-an dari lingkungan sekitar, pikiran kita tetap fokus dan mampu menghadapi hal tersebut dengan kepala dingin. Dengan kata lain: stay cool, bro!  :-)

Menurut saya, untuk menkondisikan kepala tetap dingin dan pola pikir kita tetap fokus memang bukan pekerjaan mudah dan dapat dikebut dalam satu malam. Pembiasaan memang perlu. Tapi, terkadang “gagal fokus” tetap muncul saat kita melihat keluarga / kawan kita mulai memandang rendah kita. Tetaplah, pola pikir kita jangan sampai menjadi pola pikir pecundang. Fokus ke pola pikir pembelajar menjadi kritikal. Karena pecundang dan pembelajar adalah dua individu yang berbeda 180 derajat.

Berat kah? Ya, memang saya akui hal tersebut berat. Menyerah sekarang? Nampaknya belum tidak. Mari kita coba cara lain.

Kemudian, kadang timbul pertanyaan: waduh, si A kenapa bisa sesukses itu ya? Si A memang luar biasa.

Yap, kesuksesan si A bisa jadi merupakan pucuk dari gunung es yang menyembulkan dirinya sedikit ke atas permukaan laut. Terkadang kita alpa mengenai sesuatu yang jauh lebih besar dari hanya sekedar pucuk gunung es yang menyembul ke permukaan laut tadi. Ya, bisa jadi sesuatu yang jauh lebih besar itu merupakan kegagalan yang sudah dialami dan dilewati oleh si A. Jika kita mau repot untuk turun dari perahu nyaman kita dan menyelam ke dalam laut yang dingin untuk melihat sesuatu yang besar tadi, barangkali kita tidak menyangka bahwa kegagalan yang sudah dilewati oleh A memang luar biasa. Bahkan mungkin kita belum tentu sanggup untuk melewati rentetan kegagalan / kerugian / kesedihan yang sudah dialami oleh si A.

Nampaknya kejadian di atas sejalan dengan ungkapan seorang pendiri Honda Coorporation:
“Apa yang orang lihat tentang kesuksesan saya hanyalah 1%, tetapi yang tidak mereka lihat adalah 99%, yaitu kegagalan-kegagalan saya” (Soichiro Honda)

Ya, bagian pucuk gunung es yang terlihat di atas permukaan laut adalah 1% bagian dari gunung es yang ada; dan bagian yang tenggelam di bawah permukaan laut adalah 99% bagian dari total keseluruhan gunung es tersebut. Sekali lagi, luar biasa.

Kembali saya ulang, perencanaan kegagalan sama halnya dengan perencanaan kesuksesan. Dalam merencanakan kesuksesan, terkadang ada saja rencana yang meleset. Sudah direncanakan tetapi masih ada saja yang meleset. Seperti itu pula kegagalan. Jika kegagalan tidak direncanakan, bisa jadi efeknya akan meleset jauh.

Saya pernah dengar sebuah wejangan dari senior bahwa “kegagalan akan menjadi satu paket dengan kesuksesan”. Hmmmm. Jujur saja, itu berat dan tidak mudah. Semua orang pasti mau menerima, menjalani dan menikmati kesusksesan; tetapi apakah semua orang mau menerima kegagalan?
Hmmm. Jawaban dari pertanyaan tersebut akan kembali ke diri kita masing-masing. Semua orang mempunyai jawaban yang unik.

#Lantas

Bagaimana dengan quote “jika Anda akan gagal dalam sesuatu hal, maka gagal-lah secepatnya!”?

Kemudian quote jaman kita sekolah dasar dahulu: “berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian”?

Kemudian bagaimana dengan quote “gagal merencanakan berarti merencanakan gagal”?

Entahlah…
Jawaban akan kembali ke diri kita masing-masing.

Tulisan ini hasil #refleksi dari sumber berikut:
Buku: Lim, Billy. 2014. Dare to Fail: Sisi Lain di Balik Kesuksesan. Jakarta: Phoenix Publishing Project.

Semoga bermanfaat.. :-)

Rabu, 19 Juli 2017

Sometimes We Win, Sometimes We Have to Learn

Mungkin ada beberapa dari kita yang sudah tidak asing lagi dengan judul di atas.

Judul tulisan di atas saya sadur dari sebuah buku karya John C. Maxwell yang berjudul “Sometimes You Win, Sometimes You Lose Learn”. Judul saya modifikasi sedikit agar sesuai dengan kondisi penulis saat ini dan barangkali kondisi sebagian dari kita.


Cover buku Pak John Maxwell yang saya maksud. (Sumber: dikumentasi pribadi)

Ya. Terkadang kamu menang, terkadang kamu kalah belajar. Pak John Maxwell mencoret (atau lebih tepatnya tidak menggunakan) kata “lose” (kalah) sebagai padanan frase sebelumnya yang menggunakan kata “win” (menang) dan mengganti kata “lose” (kalah) dengan kata “learn” (belajar). Kalah dan belajar merupakan dua kata yang berbeda makna. Tetapi, dalam kehidupan keseharian, kedua kata ini dapat menunjukkan kondisi yang mirip dengan efek yang berbeda 180 derajat.

Pa John Maxwell juga mengungkapkan bahwa pelajaran terbaik dalam hidup justru didapatkan dari kekalahan / kehilangan / kerugian yang kita alami, bukan dari bangku sekolah / kuliah. Ada petikan lain dari pendapat beliau yaitu:

Experience is not the best teacher, evaluated experience is

Dari evaluated experience itu-lah terdapat proses pembelajaran. Dan menurut beliau, itu lah guru terbaik.

Lanjut.

Jika suatu waktu kita menang, dan kemudian suatu waktu selanjutnya kita kalah, maka efek kalah menunjukkan bahwa si pecundang sudah tidak berdaya lagi terhadap lawannya. Sang pecundang sudah menyerah. Kondisi berbeda jika kita menggunakan kata “belajar”. Kadang-kadang kita menang, kadang kita harus belajar. Maka si pemenang tadi pada suatu saat akan menjadi pembelajar (bukan pecundang). Hidup tak selamanya tentang kemenangan, terkadang kita harus belajar mengenai hal-hal yang membuat kita tertunda untuk menang atau kita belajar untuk menang.

Efek yang sungguh berbeda akan terasa antara aura kata “kalah” dan “belajar”, walaupun sebenarnya dalam kondisi yang sama.

Bisa jadi kita harus belajar terlebih dahulu sebelum diberi kemenangan. Atau kita sudah menjadi pemenang, tetapi di kemudian hari, kita harus belajar. Dan sepertinya kita bisa sambungkan dengan peribahasa “hidup bagai perputaran roda pedati, kadang posisi di atas dan terkadang posisi di bawah dan seterusnya”, kemudian disambung dengan peribahasa “tuntutlah ilmu (belajar) dari buaian sampai liang lahat”.

Perkara kalah memang tidak mudah diterima, tetapi memang yang harus dilakukan (dan terkadang menjadi bagian tersulit dari proses kalah itu sendiri) adalah mencoba untuk bangkit dari kekalahan. Jika diibaratkan dengan orang jatuh, misalkan terpleset ke dalam kanal dengan kedalaman tertentu. Saat proses jatuh / terpeleset, yang pasti dirasakan adalah rasa kaget. Ya, kaget. Karena jatuh memang belum direncanakan sebelumnya. Berbeda kalau memang sudah direncanakan jatuh, itu lain cerita (mudah-mudahan dalam beberapa hari ke depan saya akan coba buat tulisan mengenai topik “merencanakan jatuh”, “jatuh terencana” dan sejenisnya 😊).

Lanjut, jika memang proses jatuh itu tidak direncanakan, maka kita akan kaget (shock). Kemudian jatuh dan mungkin merasakan sakit (sakitnya di situ ya, di bagian tubuh yang terbentur saat jatuh; bukan “sakitnya tuh di sini”. Itu mah judul lagu donk.. 😊).
Lanjut. Setelah sakit, kita pasti merasakan sakit tersebut untuk beberapa waktu. Dan kemudian, hal paling sulit-pun menghampiri, yaitu keinginan untuk bangkit. Setelah keinginan untuk bangkit muncul (dengan sulitnya), kemudian usaha untuk bangkit-pun kita lakukan (walaupun masih terasa sakit pasca jatuh tadi). Usaha untuk bangkit tidak harus sekali coba langsung berhasil, terkadang harus melalui beberapa tahap percobaan dan baru berhasil. Beruntung lah bagi mereka yang dari awal sudah berhasil dan tidak jatuh atau mereka mereka yang terjatuh dan mampu bangkit dengan sekali coba.

Dan dari kasus jatuh ke sungai tadi, kita jadi belajar akan beberapa hal seperti:

  •         Kenapa ya saya bisa jatuh?
  •         Mengapa saya harus jatuh di sungai yang agak dalam itu? Kenapa tidak di sungai yang lain yang dangkal saja?
  •         Berapa lama ya waktu yang diperlukan dari jatuh sampai saya bangkit lagi?
  •         Waktu saya jatuh, adakah orang yang yang membantu saya bangkit? Siapa dia orangnya?
  •          Kira-kira apa yang dapat mencegah saya agar ngga jatuh di sungai itu lagi?


#learn

Memang hidup ini untuk belajar, bahkan sampai jasad kita tak bernyawa. Banyak hikmah yang didapat dari sebuah kekalahan / kejatuhan / /kehilangan / kerugian proses pembelajaran. Siapa-pun orang yang masih berjalan di atas muka bumi pasti akan selalu siap menghadapi kemenangan dan memang itu yang dituju, tetapi kadang untuk sebuah kekalahan proses pembelajaran, barangkali belum semua orang siap akan hal tersebut.

Kemudian, barangkali ada pertanyaan yang muncul: mengapa saya harus belajar? Ya karena kita tidak selamanya dalam posisi menang. Kecuali jika ada suatu lembaga yang menjamin kita untuk selalu menang setiap saat. Barulah dengan itu, kita tidak perlu belajar lagi karena kita akan selalu menang.

(Psssst… Jika memang benar ada lembaga yang menjamin kemenangan kita setiap saat, saya-pun tertarik dengan lembaga tersebut. Boleh lah saya diberikan nomor kontak lembaga tersebut. 😊)

#akhirnya

Dan pada akhirnya, kita memang harus belajar karena kita tidak selamanya berada pada posisi menang; karena posisi roda tidak lah selamanya berada di atas. Sesederhana itu.

#SemogaBermanfaat
:-)

Selasa, 18 Juli 2017

In Harmonia Progressio

In Harmonia Progressio


Akhirnya bisa punya keinginan buat nulis lagi euy.

Sepertinya memang terasa agak gatal kalu-kalu ujung jari lama ngga bersentuhan halus dengan tuts keyboard komputer. Terasa agak janggal di ujung jari. Hehee… Sudah lama berniat untuk konstan menulis di blog setidaknya sebulan menelurkan satu tulisan dengan tema tertentu. Tetapi apa daya, terkadang tidak ada sinkronasi antara niat dan waktu untuk menulis. 😊

Ya sudah. Kembali ke laptop. Langsung saja dimulai pembahasannya.

Yup.

Sesuai judul, in harmonia progressio. Bukan merupakan kalimat dalam bahasa Inggris yang dimodifikasi, bukan pula bahasa Sangsekerta. Kalimat tersebut diambil dari bahasa Latin, ya bahasa Latin. Bahasa yang sudah tidak dipakai lagi untuk bahasa resmi atau bahasa keseharian di manapun di dunia ini. Kalimat “in harmonia progressio” dijadikan pula sebagai jargon atau tagline Institut Teknologi Bandung (ITB). Oiya, saya bukan merupakan alumni dari kampus tersebut dan tidak terafiliasi dengan kampus tersebut. Tetapi jujur saja, saya terinspirasi dengan jargon tersebut. Singkat dan bermakna.

Jika diartikan ke dalam bahasa Inggris, maka jargon ITB tersebut menjadi “progress in harmony”; dan jika diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, maka akan menjadi “kemajuan dalam harmoni”. Ya kita coba bahas per kata ya. Biar lebih nendang lagi maknanya.

#progress

Dalam buku kamus Oxford, kata progress jika diposisikan sebagai kata benda (noun) maka dapat diartikan sebagai: “forward or onward movement toward a destination; development toward an improved or more advanced condition”. Jika diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, maka artinya akan menjadi: “pergerakan maju ke depan menuju suatu tujuan; perkembangan menuju kondisi lebih baik dan maju”. 
Singkat kata, progress merupakan suatu kemajuan menuju suatu tujuan. Dalam hidup, kita pasti mempunya harapan dan tujuan. Harapan dan tujuan dicapai dengan bertahap dan melalui suatu proses. Dan uniknya, proses yang dilalui antara satu orang dan orang lain tidak harus sama.

#harmony

Lanjut, masih merujuk ke kamus Oxford, kata harmony merupakan kata benda yang dapat diartikan sebagai: “the state of being in agreement or concord; the combination of simultaneously sounded musical instrument notes to produce a pleasing effect”. Jika diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, maka akan menjadi: “kondisi yang sesuai dengan kesepakatan atau rukun; kombinasi dari hasil not alat musik yang dibunyikan secara bersamaan untuk menghasilkan sebuah efek yang menghibur”. 
Yap. 
Harmoni diartikan sebagai kondisi yang akur atau tanpa pertentangan, bagaikan suara alat musik yang dibunyikan bersamaan untuk menghasilkan efek yang menghibur. Segala sesuatu yang hadir dalam satu lokasi dan dalam waktu yang bersamaan serta tanpa pertentangan, maka akan menimbulkan efek relaksasi dan itu lah yang dinamakan harmoni. Berbanding terbalik jika segala sesuatu hadir di lokasi yang sama dan dalam waktu yang bersamaan tetapi dengan pertentangan, gesekan, kesalahpahaman, curiga dan hal lain yang dapat memicu energi negatif, maka dapat dikatakan bahwa kondisi tersebut jauh dari kondisi harmoni.

#jadi

Jadi, progress in harmony dapat diartikan sebagai: “sebuah kondisi di mana beberapa hal mengalami kemajuan atau perkembangan ke arah yang lebih baik dengan tidak menimbulkan pertentangan, gesekan dan hal lain yang dapat memicu energi negatif”.

Ini yang menarik bagi saya, berbagai hal yang mengalami kemajuan atau perkembangan memang seharusnya tidak menimbulkan pertentangan atau gesekan sehingga akan menimbulkan efek yang menyenangkan bagi orang tersebut dan lingkungan sekitarnya. Apa? Lingkungan sekitarnya? Ya, karena, seperti yang sudah dijelaskan di penjelasan harmoni tadi. Harmoni dapat pula diartikan sebagai lantunan yang dihasilkan dari berbagai alat musik dan efeknya akan ganda, yaitu bagi si pemain alat musik dan bagi orang yang mendengarkan. Coba bayangkan jika para pemain orkestra memainkan not lagu sesuai dengan keinginan mereka masing-masing, maka akan menimbulkan nada acak yang tanpa arti dan tidak terbentuk harmoni; penonton-pun akan bubar dengan teratur. 😊

Betapa pentingnya harmoni dalam hidup. Beruntunglah bagi mereka yang sudah mampu membentuk harmoni dalam kehidupan sehari-hari. Kehidupan yang tanpa pertentangan dan gesekan antara pihak-pihak yang terkait dan hidup yang memberikan energi positif ke lingkungan sekitar.

Dan yakinlah, pemain orkestra-pun butuh latihan berkali-kali dan mereka pasti pernah melakukan kesalahan setidaknya sekali dalam menyelaraskan nada-nada dalam orkestra. Ego koor pemain biola harus diturunkan agas bisa menyatu dengan perkusi, pemain perkusi-pun harus menjaga irama agar pembetot bass dapat menyelaraskan dan pada akhirnya semua pemain dalam orkerstra harus mengikuti arahan Sang Konduktor agar terbentuk harmoni nada yang indah yang dapat dinikmati oleh semua pemain orkestra dan para hadirin yang menyaksikan. 

Dan yang tidak kalah penting, harmoni yang terbentuk merupakan harmoni sungguhan, harmoni yang terbentuk dari beberapa alat musik yang dimainkan; dan bukan merupakan harmoni semu yang merupakan hasil rekaman orkestra lain sehingga seolah-olah para pemain sedang memainkan alat musik, padahal suara yang dihasilkan merupakan hasil rekaman. Harmoni semu ini memang dapat menghibur para penonton, tetapi tidak dengan pemain orkestra itu sendiri. Tetapi lama-kelamaan penonton akan merasakan pula kejanggalan dalam harmoni semu tersebut.

#InHarmoniaProgressio
#ProgressInHarmony

#SemogaBermanfaat

Senin, 10 April 2017

#GTD

Tumben pakai tanda "#".
Hashtag alias tanda pagar memang baru kali ini saya pakai buat judul tulisan.
Seperti biasa, langsung saja lah.

Apa itu #GTD?

Sebenarnya cukup saja ditulis "GTD", tapi rasanya kurang greget. Maka dari itu, tambahan hashtag menjadi "sesuatu" pada judul tersebut.
Jadi, apa itu GTD?

Yap, GTD adalah kependekan dari Get Things Done. Sebuah frasa dalam bahasa Inggris yang artinya kurang lebih "selesaikan urusan-urusan".
Bagaimana urusan-urusan yang ada di depan kita bisa kita selesaikan. Ya, semua urusan.

Melalui judul #GTD, saya tidak akan membahas bagaimana manajemen waktu agar urusan-urusan kita dapat terselesaikan dan memang saya bukan ahlinya di bidang tersebut (manajemen waktu). Tetapi saya ingin menggaris bawahi beberapa hal yang saya alami pribadi. Hanya berupa sharing saja. Berikut yang saya bisa saya ambil hikmah dari #GTD:

  • Selesaikan urusan sesegera mungkin karena urusan yang lainakan datang begitu satu urusan selesai
  • Jika bentrok, atur sedemikian rupa agar things get done
  • Penundaan urusan tidak akan menyelesaikan masalah, hanya kelegaan sesaat yang semu saja yang didapat; tetapi setelah itu urusan dapat menjadi bola salju (membesar seiring diulurnya waktu)
  • Antara berpuas diri dan pemberian reward ke diri sendiri agaknya berbeda konteks di antara keduanya
  • Masalah terakhir adalah "how to #GetThingsDone in appropriate manner and in proposed time?"
Yap.
Pastinya tiap orang punya hikmah tersendiri yang dapat dipetik dari menyelesaikan urusan-urusan mereka masing-masing dengan cara yang unik pula.
Dan seperti pada permasalahan terakhir, pada intinya, urusan-urusan memang harus diselesaikan dengan cara yang tepat dan dalam waktu yang dijanjikan / diusulkan sebelumnya. 

Bagaimana kalau gagal?
Bagaimana kalau telat / ngaret?
Bagaimana kalau caranya ga sesuai dengan kebiasaan orang?
Bagaimana kalau dimaki orang nanti?
Bagaimana kalau saya kerjakan nanti-nanti saja? Saya sibuk sekarang.

Yap.
Semua kembali pada pribadi masing-masing.
Pokoknya #GTD #GetThingsDone.
Cara agar urusan bisa selesai dengan cara yang tepat dan dalam waktu yang dijanjikan adalah bagian dari seni penyelesaian masalah.

Jadi, get things done guys..

#SemogaBermanfaat

10Apr2017
14Raj1438

Rabu, 15 Juni 2016

Trip & Fall

"Tiap orang barangkali pernah merasakan tersandung dan jatuh dalam hidupnya. Setidaknya sekali seumur hidup (atau terkadang berkali-kali). Entah dalam hal apa orang itu tersandung dan jatuh"

#Yap

Trip & Fall, tersandung dan jatuh.

Kadang, sesaat setelah tersandung saja, kita sudah bersyukur apabila selanjutnya kita hanya tersandung saja dan tidak sampai jatuh.
Namun, kondisi tersebut sangat tidak mungkin untuk kita kendalikan.
Ada kalanya, kejadian beruntun. Seperti pada judul, tersandung dan jatuh. Barangkali ada kejadian selanjutnya setelah peristiwa jatuh.

Tetapi ada hal yang sangat mungkin untuk kita kendalikan saat kejadian itu, yaitu respon kita terhadap kejadian tersebut.
Respon-pun bisa jadi beragam. Karena respon merupakan hasil/output dari pikiran kita.

Trip and fall, then respond wisely.

#SemogaBermanfaat


Kamis, 22 Oktober 2015

Seven Dangers of Human Virtue

Berikut kutipan dari Mahatma Gandhi, seorang pemikir:

Teks aslinya kurang lebih seperti ini:

Seven Dangers to Human Virtue:
  1. Wealth without work
  2. Pleasure without conscience
  3. Knowledge without character
  4. Business without ethics
  5. Science without humanity
  6. Religion without sacrifice
  7. Politics without principle
Apabila diterjemahkan:

Tujuh Bahaya bagi Kebajikkan Manusia:
  1. Kekayaan tanpa bekerja
  2. Kesenangan tanpa nurani
  3. Pengetahuan tanpa karakter
  4. Bisnis tanpa etika
  5. Ilmu tanpa kemanusiaan
  6. Agama tanpa pengorbanan
  7. Politik tanpa prinsip

Minggu, 04 Mei 2014

Keep Moving Forward!!

"Keep moving forward, karena terkadang halangan itu bisa jadi hipotesa diri sendiri untuk berhenti"

(Risa Suseanty, Atlit Sepeda Downhill Indonesia, 2013)

Minggu, 20 Oktober 2013

It's Life

When things go wrong, as they sometimes will,
When the road you are trudging seems all uphill,
When the funds are low and the debts are high,
And you want to smile but you have to sigh,
When care is pressing you down a bit.
Rest if you have to, but don't you quit.

It is life.
Rest if you have to, but don't quit.
Stay on the right path, journey is still laying on toward.

(Original writer is unknown, modified by Karabiner, 2013)

Sabtu, 31 Agustus 2013

Aset Dalam Hidup

Perjalanan jika hanya sekedar berpindah tempat dari suatu tempat ke tempat lain sepertinya akan terasa hambar, tanpa rasa.
Kecuali jikalau kita mengisinya dengan suatu yang lain, yang bermanfaat tentunya.

Yaaap.
Terkait dengan judul, dalam perjalanan saya dari Jakarta ke Palembang, saya secara tidak sengaja berkenalan oleh seorang bapak yang bernama Pa Iskandar. Kebetulan beliau satu pesawat dengan saya dan satu baris tempat duduk. Tepatnya tertanggal 24 Agustus 2013 saya mendapati perjalanan Jakarta - Palembang yang rutin saya lalui setidaknya sebulan sekali menjadi terasa berbeda dari perjalanan sebelumnya.

Kembali ke Pa Iskandar.
Pa Iskandar ini sangat cair dengan orang baru. Mudah kenal, mudah bergaul dan tanpa kaku. Itu kesan pertama saya. Tapi ada kemungkinan lain. Beliau ini memang cukup senior, dia sudah masuk masa pensiun. Sudah tidak bekerja dan mulai aktif di kegiatan politik. Mungkin dikarenakan
sudah cukup berumur, Pa Iskandar sudah biasa menghadapi orang baru seperti saya ini. Awal cerita, kami berkenalan dan bertanya mengenai tempat tinggal kami, asal usul sampai tujuan keberangkatan kami ke Palembang. Dan sampai saat saya mengatakan tujuan saya ke Sungai Lilin (nama salah satu kelurahan di kabupaten Musi Banyuasin Sumsel), dia langsung menyodorkan kartu nama kerabatnya yang akan menjadi calon anggota DRPD Sumsel daerah pemilihan 1 (termasuk kabupaten Musi Banyuasin di dalamnya) perihal meminta bantuan kenalan orang asli Sungai Lilin untuk mendukung kerabatnya tersebut. Tapi fokus pembahasan saya bukan di kerabat Pa Iskandar yang ingin menjadi calon legislatif. (Huuuft, sudah panjang-panjang kok tidak jadi dibahas ya?)

Yaaap.
Singkat cerita (padahal pembukaan saja sudah dua paragraf sendiri, kok masih saja dikatakan singkat ya?). Oke. Lanjut. Pa Iskandar ini sampai pada pernyataan dengan nada menasehati dari tetua kepada yang muda (dan saya selalu bersyukur apabila dapat nasihat dan dengan antusias mendengarkan). Dia mangatakan bahwa hidup bagi dia adalah sederhana. Nah, bagian ini yang ingin saya sedikit jabarkan.
Berikut kutipan Pa Iskandar:
"Hidup itu sederhana. Bagi saya hidup harus memiliki tiga aspek yang wajib dipenuhi: kesehatan (jiwa dan rohani), keuangan (penghidupan) yang cukup dan teman
(kolega atau kerabat). Titik"
(Iskandar, 2013)

Mantap.
Itu lah ucapan batin saya mengiyakan apa yang dikatakan Pa Iskandar ini. Ketiga aspek tersebut sudah meliputi keseluruhan aspek kehidupan. Nah, ketiga aspek ini lah yang ingin saya coba sedikit kuatkan makna dari apa yang sudah diucapkan Pa Iskandar tadi.

Oke.
Aspek pertama tadi yaitu kesehatan. Menurut P Iskandar, kesehatan tidak hanya kesehatan raga, tetapi jiwa dan rohani-pun wajib mendapatkan "sarapan" agar tetap sehat dan bugar. Betapa banyak orang-orang di sini (manusia Indonesia) yang memiliki badan tegap, masih bisa berjalan, berdiri, berinteraksi dan lainnya, tetapi jiwa dan rohani mereka kosong. Akhirnya mereka bagai "badan tak bertuan". Karenanya, banyak kejadian-kejadian ataupun penyelewengan demi penyelewengan yang terjadi di NKRI. Tidak lain dan tidak bukan adalah akibat dari badan yang pemilik atau tuannya sudah lemah atau tidak ada sama sekali.

Lanjut.
Aspek kedua. Masih menurut Pa Iskandar, aspek keuangan atau finansial mendukung kelangsungan hidup kita. Aspek keuangan tidak harus benar-benar berbentuk uang nyata, tetapi dapat berbentuk yang lain (misalnya aset tanah dan lainnya). Setiap orang dapat bervariasi kebutuhan akan aspek yang satu ini. Memang banyak pendapat bahwa aspek ini merupakan aspek sensitif bagi kebanyakan orang. Seorang kaya lumrahnya membutuhkan aspek ini lebih dari orang lain. Tetapi ada juga seorang kaya yang tidak terlalu mementingkan aspek ini. Dan ada pula seorang yang kekurangan justru mementingkan aspek ini di atas aspek lainnya dengan kebutuhan yang lebih dari biasanya. Semua kembali ke preverensi masing-masing.

Dan terakhir (menurut Pa Iskandar).
Aspek teman. Di sini, posisi teman adalah luar biasa penting. Pastinya kerabat / kolega / teman yang bisa saling "push" atau saling dorong untuk mencapai perbaikkan diri. Bukan kerabat yang mendorong kita ke jurang nista. Ayah saya juga berkata bahwa sahabat itu aset yang perlu dijaga. Jangan pernah menghiraukan sahabat atau teman. Saya yakin bahwa semua dari kita pasti butuh teman atau sahabat. Karena saya-pun merasakan kedahiran dan eksistensi teman dan sahabat saya.

Yaaap.
Itu lah sedikit makna yang mampu saya intisari-kan dari hasil pembicaraan singkat selama kurang lebih satu jam dalam kabin. Singkat dan sederhana.
Karena seperti itulah hidup.

Semoga bermanfaat.. :-)

Minggu, 25 Agustus 2013

Tentang Sesuatu

Judul agak rancu?
Sedikit bingung akan judulnya?

Aaah. Yasudah lah.
Apalah arti sebuah judul. Walau menurut para ahli bahasa dan komunikasi sebuah judul dari bacaan memberikan peranan penting terhadap keseluruhan isi. Tidak lain dan tidak bukan karena judul merupakan awalan, pemikat dan memberikan kesan pertama.
Yaa. Kesan pertama, selanjutnya terserah Anda.. *lhoooh* Maksud saya, selanjutnya terserah kita mau melanjutkan baca isinya atau tidak. :-)
(Kok jadi bahas pengertian judul dari sebuah bacaan ya?)

Yaaaap.
Sudah. Sudah. Cukup sudah pembahasan introduksi tulisan ini tentang judul. Selanjutnya, ijinkan saya berlanjut ke bagian isi. Sebenanrya saya ingin menceritakan ulang tentang sesuatu. Ya, tetang sesuatu. Tentang salah satu ketetapan Tuhan yang sudah PASTI. Sebagaimana yang kita ketahui, setidaknya ada tiga ketetapan Tuhan yang pasti, yaitu REJEKI, JODOH dan MATI. Haah? Mati?
Waduh. Jangan panik dulu Masbro n Mbasis. MATI itu kan pasti juga. Tapi kali ini saya ingin bahas tentang jodoh kok. Bahas yang sejuk dulu yak.

Yaah.. Palingan nulis curhatan ya? Atau menumpahkan segala kegalauan di media blog?
Hmm.. Sebentar. Sebentar.

Yap.
Tenang dulu Masbro n Mbasis. Saya akan coba membahas se-objektif mungkin. Saya akan coba pilah antara objektivitas dengan curahan hati pribadi.
Tapi jika ada tersisip sedikit curahan hati, harap maklum ya.. :-)

Oke.
Pembahasan jodoh memang cukup seru. Langsung saja. Jodoh merupakan anugerah terindah dari Tuhan dan sekaligus misteri yang belum terpecahkan kecuali kita memang ingin sekali memecahkan misteri tersebut alias menikah. Bahkan setiap orang punya jalan masing-masing dalam bertemu dengan jodohnya. Saya yakin itu. Tiap orang pasti punya cerita tersendiri perihal pertemuan dengan kekasih / istri. Lika-liku jodoh memang sampai tulisan ini dibuat belum saya pecahkan sendiri. Tapi hasil selidik dari rekan dan teman, jodoh itu memang misteri Tuhan. Tapi seandainya misteri tersebut tidak segera dikuak, maka misteri akan tetap jadi misteri. Sama halnya dengan jodoh, apabila jodoh hanya sebatas teori dan rencana, maka tanpa penjemputan, jodoh akan sebatas angan dan ingin. Maksudnya, jodoh memang harus dijemput. Saya juga sedang menasehati diri saya sendiri untuk segera melakukan itu, ya menjemput jodoh.

Jodoh hanya akan menjadi sebatas asa dan ingin apabila tanpa eksekusi nyata. Misal, saya ingin si A menjadi jodoh saya dan berharap kelak si A menjadi pasangan hidup saya sampai akhir hayat. Nah, itulah yang kita namakan sebagai ingin dan asa. Baru langkah awal dari sekian langkah yang Tuhan wajibkan dalam rangka menjemput jodoh. Masih ada beberapa langkah lagi. Langkah nyata pastinya.

Berikut cerita menarik antara si B dan si C. Penasaran? Yuk dilanjut bacanya.
Ada suatu ketika seseorang tertarik dengan lawan jenis. Katakan lah si B (laki-laki) tertarik terhadap si C (perempuan). Si B ini dapat berniat baik, tapi tidak menutup kemungkinan juga untuk berniat buruk. Asumsikan si B ini berniat baik untuk segera menghalalkan hubungan merekan atau singkat kata, si B ingin sekali memperistri C. Si B sudah memenuhi langkah pertama, yaitu ingin dan asa. Ada keinginan dan harapan untuk suatu niat yang baik (menikah). Ternyata B ini seorang pemalu dan sekalipun si C lebih berani, tetapi C ingin memberi kesempatan B untuk menyatakan niat terlebih dahulu ke orang tua C. Menurut saya, belum lazim dalam budaya Indonesia apabila pihak C menyatakan niat terlebih dahulu (apa yang tidak lazim itu belum tentu salah atau dilarang ya).
Sebenarnya tidak salah dan tidak terlarang apabila pihak C yang menyatakan terlebih dahulu, hanya saja mungkin masih belum lazim.

Yaaap.
Lanjut ke cerita si B.
Di balik sifat malu si B, ternyata si B memang benar-benar berniat memperistri si C. Usut punya usut, usaha si B untuk memperistri si C terhenti hanya sebatas ingin dan asa. Langkah konkrit dan doa terbaik belum dilakukan B. Si B hanya usaha ringan (yang lebih ke arah usaha setengah-setengah) dan doa ala kadarnya.
Usaha B yang setengah-setengah itupun akhirnya dipandang sekilas oleh C sebagai usaha main-main atau tidak serius. Akhirnya, C memberikan nilai R alias ragu-ragu ke buku rapor B. Berlanjut ke doa, doa B-pun masih doa ala kadarnya. Doa yang seharusnya berharap kepada Tuhan agar jodoh diperjelas. Sehingga apabila dia jodoh kita, mohon lah untuk didekatkan dan disegerakan agar menjadi halal. Tetapi apabila dia bukan jodoh kita, tetaplah berharap. Berharap agar ditunjukkan orang lain yang memang jodoh kita. Dan seharusnya B melakukan doa ini sebagai awalan (masih banyak amalan lain sebagai persiapan menuju penjemputan jodoh). Tetapi B hanya melakukan
doa yang ala kadarnya. Usaha si B terkesan meragukan dan doa-pun ala kadarnya. Tugas si B memang berat dalam menjemput jodoh yang entah di mana adanya dan akan bertemunya. Bagi B, jodoh akan tetap menjadi misteri tanpa usaha untuk menguak misteri tersebut.

Tanpa merubah pola penjemputan jodoh, si B akan tetap menganggap jodoh itu misteri dan pastinya akan terlampau sulit bagi B untuk mendapatkan pasangan hidup. Karena Tuhan sudah menentukan jodoh tiap orang, tinggal kita saja yang berusaha untuk menjemput jodoh kita itu. Bahkan Tuhan sampai berpesan bahwa Tuhan tidak akan merubah kondisi suatu kaum (seseorang) sehingga mereka akan merubah keadaan yang ada dalam diri mereka sendiri.Termasuk usaha untuk menjemput jodoh, Tuhan tidak akan memperjelas jodoh kita sampai kita berusaha mencari petunjuk akan jodoh tersebut.
Dan banyak lagi cerita tentang dimudahkannya usaha seseorang yang sudah siap dan pantas untuk menjemput jodoh. Usaha mereka sungguh-sungguh dan benar-benar dimudahkan Tuhan.

Seperti pada paragraf sebelumnya, sebenarnya saya masih punya bebarapa contoh cerita dari kerabat yang telah mengalami langsung kejadian seputar penjemputan jodoh. Tetapi untuk kali ini, ijinkan saya membagi satu dari sedikit cerita di atas tentang penjemputan jodoh.

Saya akan coba tulis sedikit cerita yang berbeda terkait penjemputan jodoh di lain sesi.

Semoga bermanfaat.. :-)

Sabtu, 24 Agustus 2013

Catatan Tentang Sahabat

Aji Eko Priyanto, Ricky, Intan Shielqi Farah, Singgih Sri Kartiko, Evan, Garry Riskiandy Putra.

Umur tak ada yang bisa menyangka batasnya, kematian tak satu orangpun yang mampu menolaknya atau menundanya.
Semua jelas atas kendali Tuhan Yang Maha Suci.
Bahkan menit ataupun detik selanjutnya sama sekali tidak ada jaminan kelanjutan umur manusia, bahkan dengan analisis mendalam dari ahli sekalipun.
Manusia berencana, Tuhan Yang Maha Menentukan.

Hidupun bukan hari ini saja, segalanya harus berlanjut.
Perencanaan manusia tidak lebih hebat dari jatuhnya daun kering dari ranting tersebab hembuan semilir angin.
Karena kita tak mampu memperkirakan dengan pasti kapan saat-saat daun tersebut jatuh karena tertiup angin.
Manusia berencana, Tuhan Yang Maha Menentukan.

Pasti sebagian besar dari kita pernah mempunyai rencana untuk hidup sampai uban memenuhi kepala kita.
Pasti sebagian besar dari kita punya perencanaan mendetail tentang bagaimana hidup kita nanti.
Terlalu mainstream? Oh, belum tentu.
Karena bahkan ada sebagian dari kita yang berpedoman "let it flow", biarkan (hidup ini) mengalir apa adanya.
Karena ada pula yang berpandangan "muda foya-foya, tua kaya-raya, mati masuk-surga" (hmmm....).
Manusia berencana, Tuhan Yang Maha Menentukan.

Kematian memang datang tanpa diketahui manusia siapapun.
Kematian tidak pandang usia, jabatan, kedudukan, status, ras, agama, suku dan jenis kelamin.
Tidak ada seorang ahli ternama yang dapat memprediksi kedatangan malaikat maut.
Mungkin petanda-petanda kedatangan kebanyakan disadari setelah kejadian terjadi.
Manusia berencana, Tuhan Yang Maha Menentukan.

Sekali lagi..
Manusia berencana, Tuhan Yang Maha Menentukan.

* Tulisan ini dibuat atas dasar kepergian beberapa sahabat yang lebih dulu melanjutkan kehidupan di alam lain. Karena sejatinya mereka masih hidup, ruh mereka yang tetap hidup dan melanjutkan kehidupan di alam lain. Usia mereka antara 21 - 25 tahun. Masih dini menurut saya.
Semoga kalian diberi kelapangan dan keterangan dalam alam barzah.

Minggu, 18 Agustus 2013

" ... Orang yang hebat tidak dihasilkan melalui kemudahan, kesenangan dan kenyamanan. Mereka dibentuk melalui kesukaran, tantangan dan air mata"
(Dahlan Iskan)

Minggu, 14 April 2013

Inilah Sebuah Permulaan

Yaa..

Sebuah permulaan. Yang rasa-rasanya permulaan itu harus berada paling awal, paling pertama ataupun paling dasar. Tapi khusus untuk permulaan ini, saya maksudkan tak lebih dari permulaan yaang baru dan berbeda dari sebelumnya.

Saat masa-masa sekolah dulu, kawan satu sekolah memakai seragam yang sama setiap harinya, nyaris tanpa perbedaan. Setelan putih - biru (saat SMP) ataupun setelan putih - abu2. Semua murid memakai seragam itu saat bersekolah, tanpa kecuali. Termasuk para guru. Tak tertinggal, bapak dan ibu guru-pun memakai seragam tiap kali mengajar. Sekolah mengajarkan dan mendidik kesetaraan buat para murid. Benar-benar nyaris tanpa perbedaan. Tak nampak si A itu dari keluarga berlebih, menengah ataupun kekurangan.

.

Masuk ke dunia kampus, dunia yang awalnya ku kira tak beda jauh dengan dunia "putih - abu2" yang sebelumnya ku jalani. Ternyata, dunia kampus memperlihatkan perbedaan dari berbagai sisi. Mulai dari pakaian, tempat tinggal sampai cara bersosialisasi. Sungguh berbeda. Bahkan ada kawan yang memberikan pernyataan jikalau dunia kampus itu "miniatur masyarakat".
Ya, miniatur masyarakat. Tak lain bahwa kampus mampu menggambarkan kondisi masyarakat yang sebenarnya tetapi dengan lingkup yang lebih kecil dan sederhana.

.

Yaap..
Setelah lulus kuliah, tiba saatnya mengembara di "dunia yang sebenarnya". Dunia yang benar-benar jauh berbeda dari dunia sekolah. Mendekati model dunia kampus dengan tambahan kerumitan. Lepas dari pergulatan dengan buku, kini saya harus berhadapan dengan sesama. Manusia dengan keberagaman akal, pola pikir, tingkah laku dan keunikan lainnya. Ya, inilah sebuah permulaan seseorang mulai menjadi anggota masyarakat seutuhnya. Berbaut dengan masyarakat dan mempunyai kedudukan hukum yang sama.

Gesekan dan perbedaan cara pandang ataupun pola pikir sangat lumrah terjadi dalam masyarakat. Manusia dengan segala keunikan yang Tuhan karuniakan kepada kita memang menjadi sumber perbedaan yang ada. Benar menurut saya, belum tentu benar menurut Anda. Salah menurut suatu kelompok, belum tentu salah menurut kelompok lain. Itulah perbedaan. Tapi Maha Suci Tuhan dengan segala firman-Nya, Dia menurunkan aturan agar semua perbedaan disatukan menurut aturan Tuhan.

Yaap.
Perbedaan ini memang harus saya jalani. Tidak boleh dilewatkan (dan memang tidak bisa). Perbedaan pola pikir yang kadang memicu perbedaan di bidang lainnya. Problematika yang terjadi dalam masyarakat yang terkadang tercampuri oleh urusan pribadi. Perasaan dan ego bermain. Walau kadang terjadilah debat yang tanpa selesai dan minim manfaat.

Yaa..
Itulah sebuah permulaan untuk menjadi dan diterima sebagai anggota masyarakat.

:-)

#semogabermanfaat

Senin, 04 Maret 2013

Bahagia Itu Sederhana

"Bahagia itu sederhana dan bukan suatu hal yang harus dipersulit pencapaiannya"
(Pringga S. Panji, 2013)

Minggu, 17 Juni 2012

Beliefs

A simple quote:

"BELIEFS, the enormous power to create or to destroy"

 

Sabtu, 18 Februari 2012

Coretan kecil karya penyair lawas:

oleh: Kahlil Gibran*


Kutegur jiwa tujuh kali!!

Yang Pertama: ketika aku berupaya meninggikan diri sendiri dengan mengeksploitasi yang lemah.

Yang Kedua: ketika aku timpang dihadapan mereka yang lumpuh

Yang Ketiga: ketika diberi pilihan, aku lebih memilih yang mudah ketimbang yang sulit

Yang Keempat: ketika aku membuat kekeliruan, lantas kuhibur diri sendiri dengan kekeliruan orang lain

Yang Kelima: ketika aku bersikap jinak ketakutan, kemudian mengklaim diri ini kuat dalam kesabaran

Yang Keenam: ketika ku angkat pakaian ku untuk menghindari lumpur kehidupan

Yang Ketujuh: ketika aku berdiri dan menyanyikan nyayian bagi Tuhan dan aku anggap hanya itulah satu-satunya nyayian kebajikan

----------



*) Kahlil Gibran, penyair asal Lebanon yang lama menetap di Amerika Serikat. Lahir di Lebanon pada masa khilafah Turki Ustmani tahun 1883 dan tutup usia di New York, Amerika Serikat tahun 1931.

Catatan kaki disadur dari: http://id.wikipedia.org/wiki/Kahlil_Gibran

Jumat, 06 Januari 2012

Mulai Dari Tujuan Akhir, Lho Kok??

Ya...

Kurang lebih itu lah salah satu pernyataan Dr. Stephen R. Covey dalam salah satu buku hebatnya yang bertajuk "7 Habits of Highly Effective People". Buku ini dikabarkan sebagai salah satu buku bisnis yang berpengaruh di abad 21 saat ini (http://www.stephencovey.com).

#Yap..
Pembahasan sekilas mengenai asal-muasal pernyataan di atas saya rasa cukup. Sekarang saya ingin menyimpulkan sedikit mengenai pertanyaan di atas. Kesimpulan dari pernyataan Dr. Covey dari buku tersebut.

#Mari..
Biasanya, segala sesuatu dimulai dari awal. Ibarat membaca buku, baca mulai dari halaman pertama sampai selesai di kesimpulan dari buku tadi. Jika jenis buku yang dimaksud adalah novel, maka akan ada alur cerita dari awal hingga akhir cerita (baik happy or bad ending).
Di buku karangan Pa Covey, beliau mencoba sedikit membalik paradigma kita (atau mungkin beliau mengajak kita untuk berpikir kreatif dalam menyikapi sesuatu). Pa Covey mengajak kita berfikir kretif. Dalam pernyataan di atas, memulai dari tujuan akhir akan berarti deduktif, dengan artian memecah sesuatu yang umum untuk penjabaran yang lebih khusus lagi.
Ibarat baca buku atau novel, berarti kita memulai dari bagian kesimpulan terlebih dahulu dan setelah itu baru kembali ke awal lagi. Maksud dari membaca kesimpulan kurang-lebih adalah untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dalam kisah dalam buku / novel tersebut..
Pa Covey mencoba ngebawa kita pada pikiran untuk melihat tujuan akhir kita sebelum memulai segala sesuatu. Setelah tujuan kita jelas, tinggal kita menyusun langkah-langkah dalam mencapai tujuan tersebut. Setelah itu, baru kita kembali ke awal untuk menjalankan langkah pertama dan selanjutnya. Nah, tujuan akhir kita sebagai penjabaran umum, sedangkan langkah-langkah dalam menggapai asa sebagai penjabaran khusus. Benar-benar sebuah pemikiran deduktif.

#curcolz (curhat colonganz)
Awalnya saya bingung setelah membaca pernyataan Pa Covey ini. Tidak kepikiran bahwa pernyataan tersebut merupakan pernyataan deduktif.. Luar biasa kretif. Benar-benar ga pernah berfikir untuk memulai segala sesuatu dari akhir. Dan ini memang untuk mengetahui tujuan akhir kita apa.
Pemikiran deduktif ini juga dapat mengembalikan tujuan awal kita melakukan sesuatu yang mungkin sudah samar-samar seiring waktu. Saat galau, kita tidak dapat melihat tujuan akhir kita, seperti tertutup kabut tebal. Samar..
Dengan mengingat tujuan akhir, ternyata hal tersebut dapat mengurangi tingkat kegalauan.. Kita tidak akan pernah lagi menyibukkan dengan hal-hal yang belum pasti dan belum terjadi.

Sekian.
Semoga bermanfaat.. :-)

Minggu, 04 Desember 2011

Ibu

Oleh: Virgiawan Listanto

Ribuan kilo jalan yang kau tempuh
Lewati rintang untuk aku anakmu
Ibuku sayang masih terus berjalan
Walau tapak kaki penuh darah penuh nanah
Seperti udara kasih yang engkau berikan
Tak mampu ku membalas
Ibu . . . . . . . . . . . . . ibu . . . . . . . . . . . . .

Ingin kudekap dan menangis dipangkuanmu
Sampai aku tertidur bagai masa kecil dulu
Lalu do'a-do'a baluri sekujur tubuhku
Dengan apa membalas
Ibu . . . . . . . . . . . . . ibu . . . . . . . . . . . . .



*Catatan kaki:
Memang, takkan ada yang mampu membalas kasih sayang seorang ibu. Bahkan, sekalipun kita tukar segunung emas dengan kasih ibu, maka itupun jauh dari cukup.

(ditulis tanggal 4 Desember 2011 / 8 Muharram 1432)