Ada apa aja sih??
- Bukan Puisi (5)
- Catatan Kaki (2)
- Civil-Eng® Corner (4)
- Jeprat-Jepret (6)
- Love Earth (2)
- Refleksi (20)
- Sekedar Kutipan (16)
- Utak-Atik-Asix (5)
Jumat, 18 Agustus 2017
Kesempatan dan Ketakutan
Selasa, 15 Agustus 2017
Disiplin dan Konsistensi
- Porsi makan dan jumlah asupan gizi akan direvisi sesuai dengan rencana
- Olahraga akan dikerjakan secara rutin minimal 1 jam per hari, olahraga sederhana di weekdays dan olahraga yang sedang sampai berat di weekend
- Kebiasaan mengkonsumsi kudapan yang kurang sehat akan berkurang drastis
- Dan hal lainnya
Jumat, 28 Juli 2017
Merencanakan Kegagalan
Rabu, 19 Juli 2017
Sometimes We Win, Sometimes We Have to Learn
- Kenapa ya saya bisa jatuh?
- Mengapa saya harus jatuh di sungai yang agak dalam itu? Kenapa tidak di sungai yang lain yang dangkal saja?
- Berapa lama ya waktu yang diperlukan dari jatuh sampai saya bangkit lagi?
- Waktu saya jatuh, adakah orang yang yang membantu saya bangkit? Siapa dia orangnya?
- Kira-kira apa yang dapat mencegah saya agar ngga jatuh di sungai itu lagi?
:-)
Selasa, 18 Juli 2017
In Harmonia Progressio
Singkat kata, progress merupakan suatu kemajuan menuju suatu tujuan. Dalam hidup, kita pasti mempunya harapan dan tujuan. Harapan dan tujuan dicapai dengan bertahap dan melalui suatu proses. Dan uniknya, proses yang dilalui antara satu orang dan orang lain tidak harus sama.
Yap.
Harmoni diartikan sebagai kondisi yang akur atau tanpa pertentangan, bagaikan suara alat musik yang dibunyikan bersamaan untuk menghasilkan efek yang menghibur. Segala sesuatu yang hadir dalam satu lokasi dan dalam waktu yang bersamaan serta tanpa pertentangan, maka akan menimbulkan efek relaksasi dan itu lah yang dinamakan harmoni. Berbanding terbalik jika segala sesuatu hadir di lokasi yang sama dan dalam waktu yang bersamaan tetapi dengan pertentangan, gesekan, kesalahpahaman, curiga dan hal lain yang dapat memicu energi negatif, maka dapat dikatakan bahwa kondisi tersebut jauh dari kondisi harmoni.
Senin, 10 April 2017
#GTD
Hashtag alias tanda pagar memang baru kali ini saya pakai buat judul tulisan.
Seperti biasa, langsung saja lah.
Apa itu #GTD?
Sebenarnya cukup saja ditulis "GTD", tapi rasanya kurang greget. Maka dari itu, tambahan hashtag menjadi "sesuatu" pada judul tersebut.
Jadi, apa itu GTD?
Yap, GTD adalah kependekan dari Get Things Done. Sebuah frasa dalam bahasa Inggris yang artinya kurang lebih "selesaikan urusan-urusan".
Bagaimana urusan-urusan yang ada di depan kita bisa kita selesaikan. Ya, semua urusan.
Melalui judul #GTD, saya tidak akan membahas bagaimana manajemen waktu agar urusan-urusan kita dapat terselesaikan dan memang saya bukan ahlinya di bidang tersebut (manajemen waktu). Tetapi saya ingin menggaris bawahi beberapa hal yang saya alami pribadi. Hanya berupa sharing saja. Berikut yang saya bisa saya ambil hikmah dari #GTD:
- Selesaikan urusan sesegera mungkin karena urusan yang lainakan datang begitu satu urusan selesai
- Jika bentrok, atur sedemikian rupa agar things get done
- Penundaan urusan tidak akan menyelesaikan masalah, hanya kelegaan sesaat yang semu saja yang didapat; tetapi setelah itu urusan dapat menjadi bola salju (membesar seiring diulurnya waktu)
- Antara berpuas diri dan pemberian reward ke diri sendiri agaknya berbeda konteks di antara keduanya
- Masalah terakhir adalah "how to #GetThingsDone in appropriate manner and in proposed time?"
Rabu, 15 Juni 2016
Trip & Fall
Kamis, 22 Oktober 2015
Seven Dangers of Human Virtue
Teks aslinya kurang lebih seperti ini:
Seven Dangers to Human Virtue:
- Wealth without work
- Pleasure without conscience
- Knowledge without character
- Business without ethics
- Science without humanity
- Religion without sacrifice
- Politics without principle
Tujuh Bahaya bagi Kebajikkan Manusia:
- Kekayaan tanpa bekerja
- Kesenangan tanpa nurani
- Pengetahuan tanpa karakter
- Bisnis tanpa etika
- Ilmu tanpa kemanusiaan
- Agama tanpa pengorbanan
- Politik tanpa prinsip
Minggu, 04 Mei 2014
Keep Moving Forward!!
(Risa Suseanty, Atlit Sepeda Downhill Indonesia, 2013)
Minggu, 20 Oktober 2013
It's Life
When the road you are trudging seems all uphill,
When the funds are low and the debts are high,
And you want to smile but you have to sigh,
When care is pressing you down a bit.
Rest if you have to, but don't you quit.
It is life.
Rest if you have to, but don't quit.
Stay on the right path, journey is still laying on toward.
(Original writer is unknown, modified by Karabiner, 2013)
Sabtu, 31 Agustus 2013
Aset Dalam Hidup
Kecuali jikalau kita mengisinya dengan suatu yang lain, yang bermanfaat tentunya.
Yaaap.
Terkait dengan judul, dalam perjalanan saya dari Jakarta ke Palembang, saya secara tidak sengaja berkenalan oleh seorang bapak yang bernama Pa Iskandar. Kebetulan beliau satu pesawat dengan saya dan satu baris tempat duduk. Tepatnya tertanggal 24 Agustus 2013 saya mendapati perjalanan Jakarta - Palembang yang rutin saya lalui setidaknya sebulan sekali menjadi terasa berbeda dari perjalanan sebelumnya.
Kembali ke Pa Iskandar.
Pa Iskandar ini sangat cair dengan orang baru. Mudah kenal, mudah bergaul dan tanpa kaku. Itu kesan pertama saya. Tapi ada kemungkinan lain. Beliau ini memang cukup senior, dia sudah masuk masa pensiun. Sudah tidak bekerja dan mulai aktif di kegiatan politik. Mungkin dikarenakan
sudah cukup berumur, Pa Iskandar sudah biasa menghadapi orang baru seperti saya ini. Awal cerita, kami berkenalan dan bertanya mengenai tempat tinggal kami, asal usul sampai tujuan keberangkatan kami ke Palembang. Dan sampai saat saya mengatakan tujuan saya ke Sungai Lilin (nama salah satu kelurahan di kabupaten Musi Banyuasin Sumsel), dia langsung menyodorkan kartu nama kerabatnya yang akan menjadi calon anggota DRPD Sumsel daerah pemilihan 1 (termasuk kabupaten Musi Banyuasin di dalamnya) perihal meminta bantuan kenalan orang asli Sungai Lilin untuk mendukung kerabatnya tersebut. Tapi fokus pembahasan saya bukan di kerabat Pa Iskandar yang ingin menjadi calon legislatif. (Huuuft, sudah panjang-panjang kok tidak jadi dibahas ya?)
Yaaap.
Singkat cerita (padahal pembukaan saja sudah dua paragraf sendiri, kok masih saja dikatakan singkat ya?). Oke. Lanjut. Pa Iskandar ini sampai pada pernyataan dengan nada menasehati dari tetua kepada yang muda (dan saya selalu bersyukur apabila dapat nasihat dan dengan antusias mendengarkan). Dia mangatakan bahwa hidup bagi dia adalah sederhana. Nah, bagian ini yang ingin saya sedikit jabarkan.
Berikut kutipan Pa Iskandar:
"Hidup itu sederhana. Bagi saya hidup harus memiliki tiga aspek yang wajib dipenuhi: kesehatan (jiwa dan rohani), keuangan (penghidupan) yang cukup dan teman
(kolega atau kerabat). Titik"
(Iskandar, 2013)
Mantap.
Itu lah ucapan batin saya mengiyakan apa yang dikatakan Pa Iskandar ini. Ketiga aspek tersebut sudah meliputi keseluruhan aspek kehidupan. Nah, ketiga aspek ini lah yang ingin saya coba sedikit kuatkan makna dari apa yang sudah diucapkan Pa Iskandar tadi.
Oke.
Aspek pertama tadi yaitu kesehatan. Menurut P Iskandar, kesehatan tidak hanya kesehatan raga, tetapi jiwa dan rohani-pun wajib mendapatkan "sarapan" agar tetap sehat dan bugar. Betapa banyak orang-orang di sini (manusia Indonesia) yang memiliki badan tegap, masih bisa berjalan, berdiri, berinteraksi dan lainnya, tetapi jiwa dan rohani mereka kosong. Akhirnya mereka bagai "badan tak bertuan". Karenanya, banyak kejadian-kejadian ataupun penyelewengan demi penyelewengan yang terjadi di NKRI. Tidak lain dan tidak bukan adalah akibat dari badan yang pemilik atau tuannya sudah lemah atau tidak ada sama sekali.
Lanjut.
Aspek kedua. Masih menurut Pa Iskandar, aspek keuangan atau finansial mendukung kelangsungan hidup kita. Aspek keuangan tidak harus benar-benar berbentuk uang nyata, tetapi dapat berbentuk yang lain (misalnya aset tanah dan lainnya). Setiap orang dapat bervariasi kebutuhan akan aspek yang satu ini. Memang banyak pendapat bahwa aspek ini merupakan aspek sensitif bagi kebanyakan orang. Seorang kaya lumrahnya membutuhkan aspek ini lebih dari orang lain. Tetapi ada juga seorang kaya yang tidak terlalu mementingkan aspek ini. Dan ada pula seorang yang kekurangan justru mementingkan aspek ini di atas aspek lainnya dengan kebutuhan yang lebih dari biasanya. Semua kembali ke preverensi masing-masing.
Dan terakhir (menurut Pa Iskandar).
Aspek teman. Di sini, posisi teman adalah luar biasa penting. Pastinya kerabat / kolega / teman yang bisa saling "push" atau saling dorong untuk mencapai perbaikkan diri. Bukan kerabat yang mendorong kita ke jurang nista. Ayah saya juga berkata bahwa sahabat itu aset yang perlu dijaga. Jangan pernah menghiraukan sahabat atau teman. Saya yakin bahwa semua dari kita pasti butuh teman atau sahabat. Karena saya-pun merasakan kedahiran dan eksistensi teman dan sahabat saya.
Yaaap.
Itu lah sedikit makna yang mampu saya intisari-kan dari hasil pembicaraan singkat selama kurang lebih satu jam dalam kabin. Singkat dan sederhana.
Karena seperti itulah hidup.
Semoga bermanfaat.. :-)
Minggu, 25 Agustus 2013
Tentang Sesuatu
Sedikit bingung akan judulnya?
Aaah. Yasudah lah.
Apalah arti sebuah judul. Walau menurut para ahli bahasa dan komunikasi sebuah judul dari bacaan memberikan peranan penting terhadap keseluruhan isi. Tidak lain dan tidak bukan karena judul merupakan awalan, pemikat dan memberikan kesan pertama.
Yaa. Kesan pertama, selanjutnya terserah Anda.. *lhoooh* Maksud saya, selanjutnya terserah kita mau melanjutkan baca isinya atau tidak. :-)
(Kok jadi bahas pengertian judul dari sebuah bacaan ya?)
Yaaaap.
Sudah. Sudah. Cukup sudah pembahasan introduksi tulisan ini tentang judul. Selanjutnya, ijinkan saya berlanjut ke bagian isi. Sebenanrya saya ingin menceritakan ulang tentang sesuatu. Ya, tetang sesuatu. Tentang salah satu ketetapan Tuhan yang sudah PASTI. Sebagaimana yang kita ketahui, setidaknya ada tiga ketetapan Tuhan yang pasti, yaitu REJEKI, JODOH dan MATI. Haah? Mati?
Waduh. Jangan panik dulu Masbro n Mbasis. MATI itu kan pasti juga. Tapi kali ini saya ingin bahas tentang jodoh kok. Bahas yang sejuk dulu yak.
Yaah.. Palingan nulis curhatan ya? Atau menumpahkan segala kegalauan di media blog?
Hmm.. Sebentar. Sebentar.
Yap.
Tenang dulu Masbro n Mbasis. Saya akan coba membahas se-objektif mungkin. Saya akan coba pilah antara objektivitas dengan curahan hati pribadi.
Tapi jika ada tersisip sedikit curahan hati, harap maklum ya.. :-)
Oke.
Pembahasan jodoh memang cukup seru. Langsung saja. Jodoh merupakan anugerah terindah dari Tuhan dan sekaligus misteri yang belum terpecahkan kecuali kita memang ingin sekali memecahkan misteri tersebut alias menikah. Bahkan setiap orang punya jalan masing-masing dalam bertemu dengan jodohnya. Saya yakin itu. Tiap orang pasti punya cerita tersendiri perihal pertemuan dengan kekasih / istri. Lika-liku jodoh memang sampai tulisan ini dibuat belum saya pecahkan sendiri. Tapi hasil selidik dari rekan dan teman, jodoh itu memang misteri Tuhan. Tapi seandainya misteri tersebut tidak segera dikuak, maka misteri akan tetap jadi misteri. Sama halnya dengan jodoh, apabila jodoh hanya sebatas teori dan rencana, maka tanpa penjemputan, jodoh akan sebatas angan dan ingin. Maksudnya, jodoh memang harus dijemput. Saya juga sedang menasehati diri saya sendiri untuk segera melakukan itu, ya menjemput jodoh.
Jodoh hanya akan menjadi sebatas asa dan ingin apabila tanpa eksekusi nyata. Misal, saya ingin si A menjadi jodoh saya dan berharap kelak si A menjadi pasangan hidup saya sampai akhir hayat. Nah, itulah yang kita namakan sebagai ingin dan asa. Baru langkah awal dari sekian langkah yang Tuhan wajibkan dalam rangka menjemput jodoh. Masih ada beberapa langkah lagi. Langkah nyata pastinya.
Berikut cerita menarik antara si B dan si C. Penasaran? Yuk dilanjut bacanya.
Ada suatu ketika seseorang tertarik dengan lawan jenis. Katakan lah si B (laki-laki) tertarik terhadap si C (perempuan). Si B ini dapat berniat baik, tapi tidak menutup kemungkinan juga untuk berniat buruk. Asumsikan si B ini berniat baik untuk segera menghalalkan hubungan merekan atau singkat kata, si B ingin sekali memperistri C. Si B sudah memenuhi langkah pertama, yaitu ingin dan asa. Ada keinginan dan harapan untuk suatu niat yang baik (menikah). Ternyata B ini seorang pemalu dan sekalipun si C lebih berani, tetapi C ingin memberi kesempatan B untuk menyatakan niat terlebih dahulu ke orang tua C. Menurut saya, belum lazim dalam budaya Indonesia apabila pihak C menyatakan niat terlebih dahulu (apa yang tidak lazim itu belum tentu salah atau dilarang ya).
Sebenarnya tidak salah dan tidak terlarang apabila pihak C yang menyatakan terlebih dahulu, hanya saja mungkin masih belum lazim.
Yaaap.
Lanjut ke cerita si B.
Di balik sifat malu si B, ternyata si B memang benar-benar berniat memperistri si C. Usut punya usut, usaha si B untuk memperistri si C terhenti hanya sebatas ingin dan asa. Langkah konkrit dan doa terbaik belum dilakukan B. Si B hanya usaha ringan (yang lebih ke arah usaha setengah-setengah) dan doa ala kadarnya.
Usaha B yang setengah-setengah itupun akhirnya dipandang sekilas oleh C sebagai usaha main-main atau tidak serius. Akhirnya, C memberikan nilai R alias ragu-ragu ke buku rapor B. Berlanjut ke doa, doa B-pun masih doa ala kadarnya. Doa yang seharusnya berharap kepada Tuhan agar jodoh diperjelas. Sehingga apabila dia jodoh kita, mohon lah untuk didekatkan dan disegerakan agar menjadi halal. Tetapi apabila dia bukan jodoh kita, tetaplah berharap. Berharap agar ditunjukkan orang lain yang memang jodoh kita. Dan seharusnya B melakukan doa ini sebagai awalan (masih banyak amalan lain sebagai persiapan menuju penjemputan jodoh). Tetapi B hanya melakukan
doa yang ala kadarnya. Usaha si B terkesan meragukan dan doa-pun ala kadarnya. Tugas si B memang berat dalam menjemput jodoh yang entah di mana adanya dan akan bertemunya. Bagi B, jodoh akan tetap menjadi misteri tanpa usaha untuk menguak misteri tersebut.
Tanpa merubah pola penjemputan jodoh, si B akan tetap menganggap jodoh itu misteri dan pastinya akan terlampau sulit bagi B untuk mendapatkan pasangan hidup. Karena Tuhan sudah menentukan jodoh tiap orang, tinggal kita saja yang berusaha untuk menjemput jodoh kita itu. Bahkan Tuhan sampai berpesan bahwa Tuhan tidak akan merubah kondisi suatu kaum (seseorang) sehingga mereka akan merubah keadaan yang ada dalam diri mereka sendiri.Termasuk usaha untuk menjemput jodoh, Tuhan tidak akan memperjelas jodoh kita sampai kita berusaha mencari petunjuk akan jodoh tersebut.
Dan banyak lagi cerita tentang dimudahkannya usaha seseorang yang sudah siap dan pantas untuk menjemput jodoh. Usaha mereka sungguh-sungguh dan benar-benar dimudahkan Tuhan.
Seperti pada paragraf sebelumnya, sebenarnya saya masih punya bebarapa contoh cerita dari kerabat yang telah mengalami langsung kejadian seputar penjemputan jodoh. Tetapi untuk kali ini, ijinkan saya membagi satu dari sedikit cerita di atas tentang penjemputan jodoh.
Saya akan coba tulis sedikit cerita yang berbeda terkait penjemputan jodoh di lain sesi.
Semoga bermanfaat.. :-)
Sabtu, 24 Agustus 2013
Catatan Tentang Sahabat
Umur tak ada yang bisa menyangka batasnya, kematian tak satu orangpun yang mampu menolaknya atau menundanya.
Semua jelas atas kendali Tuhan Yang Maha Suci.
Bahkan menit ataupun detik selanjutnya sama sekali tidak ada jaminan kelanjutan umur manusia, bahkan dengan analisis mendalam dari ahli sekalipun.
Manusia berencana, Tuhan Yang Maha Menentukan.
Hidupun bukan hari ini saja, segalanya harus berlanjut.
Perencanaan manusia tidak lebih hebat dari jatuhnya daun kering dari ranting tersebab hembuan semilir angin.
Karena kita tak mampu memperkirakan dengan pasti kapan saat-saat daun tersebut jatuh karena tertiup angin.
Manusia berencana, Tuhan Yang Maha Menentukan.
Pasti sebagian besar dari kita pernah mempunyai rencana untuk hidup sampai uban memenuhi kepala kita.
Pasti sebagian besar dari kita punya perencanaan mendetail tentang bagaimana hidup kita nanti.
Terlalu mainstream? Oh, belum tentu.
Karena bahkan ada sebagian dari kita yang berpedoman "let it flow", biarkan (hidup ini) mengalir apa adanya.
Karena ada pula yang berpandangan "muda foya-foya, tua kaya-raya, mati masuk-surga" (hmmm....).
Manusia berencana, Tuhan Yang Maha Menentukan.
Kematian memang datang tanpa diketahui manusia siapapun.
Kematian tidak pandang usia, jabatan, kedudukan, status, ras, agama, suku dan jenis kelamin.
Tidak ada seorang ahli ternama yang dapat memprediksi kedatangan malaikat maut.
Mungkin petanda-petanda kedatangan kebanyakan disadari setelah kejadian terjadi.
Manusia berencana, Tuhan Yang Maha Menentukan.
Sekali lagi..
Manusia berencana, Tuhan Yang Maha Menentukan.
* Tulisan ini dibuat atas dasar kepergian beberapa sahabat yang lebih dulu melanjutkan kehidupan di alam lain. Karena sejatinya mereka masih hidup, ruh mereka yang tetap hidup dan melanjutkan kehidupan di alam lain. Usia mereka antara 21 - 25 tahun. Masih dini menurut saya.
Semoga kalian diberi kelapangan dan keterangan dalam alam barzah.
Minggu, 18 Agustus 2013
Minggu, 14 April 2013
Inilah Sebuah Permulaan
Yaa..
Sebuah permulaan. Yang rasa-rasanya permulaan itu harus berada paling awal, paling pertama ataupun paling dasar. Tapi khusus untuk permulaan ini, saya maksudkan tak lebih dari permulaan yaang baru dan berbeda dari sebelumnya.
Saat masa-masa sekolah dulu, kawan satu sekolah memakai seragam yang sama setiap harinya, nyaris tanpa perbedaan. Setelan putih - biru (saat SMP) ataupun setelan putih - abu2. Semua murid memakai seragam itu saat bersekolah, tanpa kecuali. Termasuk para guru. Tak tertinggal, bapak dan ibu guru-pun memakai seragam tiap kali mengajar. Sekolah mengajarkan dan mendidik kesetaraan buat para murid. Benar-benar nyaris tanpa perbedaan. Tak nampak si A itu dari keluarga berlebih, menengah ataupun kekurangan.
.
Masuk ke dunia kampus, dunia yang awalnya ku kira tak beda jauh dengan dunia "putih - abu2" yang sebelumnya ku jalani. Ternyata, dunia kampus memperlihatkan perbedaan dari berbagai sisi. Mulai dari pakaian, tempat tinggal sampai cara bersosialisasi. Sungguh berbeda. Bahkan ada kawan yang memberikan pernyataan jikalau dunia kampus itu "miniatur masyarakat".
Ya, miniatur masyarakat. Tak lain bahwa kampus mampu menggambarkan kondisi masyarakat yang sebenarnya tetapi dengan lingkup yang lebih kecil dan sederhana.
.
Yaap..
Setelah lulus kuliah, tiba saatnya mengembara di "dunia yang sebenarnya". Dunia yang benar-benar jauh berbeda dari dunia sekolah. Mendekati model dunia kampus dengan tambahan kerumitan. Lepas dari pergulatan dengan buku, kini saya harus berhadapan dengan sesama. Manusia dengan keberagaman akal, pola pikir, tingkah laku dan keunikan lainnya. Ya, inilah sebuah permulaan seseorang mulai menjadi anggota masyarakat seutuhnya. Berbaut dengan masyarakat dan mempunyai kedudukan hukum yang sama.
Gesekan dan perbedaan cara pandang ataupun pola pikir sangat lumrah terjadi dalam masyarakat. Manusia dengan segala keunikan yang Tuhan karuniakan kepada kita memang menjadi sumber perbedaan yang ada. Benar menurut saya, belum tentu benar menurut Anda. Salah menurut suatu kelompok, belum tentu salah menurut kelompok lain. Itulah perbedaan. Tapi Maha Suci Tuhan dengan segala firman-Nya, Dia menurunkan aturan agar semua perbedaan disatukan menurut aturan Tuhan.
Yaap.
Perbedaan ini memang harus saya jalani. Tidak boleh dilewatkan (dan memang tidak bisa). Perbedaan pola pikir yang kadang memicu perbedaan di bidang lainnya. Problematika yang terjadi dalam masyarakat yang terkadang tercampuri oleh urusan pribadi. Perasaan dan ego bermain. Walau kadang terjadilah debat yang tanpa selesai dan minim manfaat.
Yaa..
Itulah sebuah permulaan untuk menjadi dan diterima sebagai anggota masyarakat.
:-)
#semogabermanfaat
Senin, 04 Maret 2013
Bahagia Itu Sederhana
(Pringga S. Panji, 2013)
Minggu, 17 Juni 2012
Sabtu, 18 Februari 2012
Kutegur jiwa tujuh kali!!
Yang Pertama: ketika aku berupaya meninggikan diri sendiri dengan mengeksploitasi yang lemah.
Yang Kedua: ketika aku timpang dihadapan mereka yang lumpuh
Yang Ketiga: ketika diberi pilihan, aku lebih memilih yang mudah ketimbang yang sulit
Yang Keempat: ketika aku membuat kekeliruan, lantas kuhibur diri sendiri dengan kekeliruan orang lain
Yang Kelima: ketika aku bersikap jinak ketakutan, kemudian mengklaim diri ini kuat dalam kesabaran
Yang Keenam: ketika ku angkat pakaian ku untuk menghindari lumpur kehidupan
Yang Ketujuh: ketika aku berdiri dan menyanyikan nyayian bagi Tuhan dan aku anggap hanya itulah satu-satunya nyayian kebajikan
*) Kahlil Gibran, penyair asal Lebanon yang lama menetap di Amerika Serikat. Lahir di Lebanon pada masa khilafah Turki Ustmani tahun 1883 dan tutup usia di New York, Amerika Serikat tahun 1931.
Catatan kaki disadur dari: http://id.wikipedia.org/wiki/Kahlil_Gibran
Jumat, 06 Januari 2012
Mulai Dari Tujuan Akhir, Lho Kok??
Kurang lebih itu lah salah satu pernyataan Dr. Stephen R. Covey dalam salah satu buku hebatnya yang bertajuk "7 Habits of Highly Effective People". Buku ini dikabarkan sebagai salah satu buku bisnis yang berpengaruh di abad 21 saat ini (http://www.stephencovey.com).
#Yap..
Pembahasan sekilas mengenai asal-muasal pernyataan di atas saya rasa cukup. Sekarang saya ingin menyimpulkan sedikit mengenai pertanyaan di atas. Kesimpulan dari pernyataan Dr. Covey dari buku tersebut.
#Mari..
Biasanya, segala sesuatu dimulai dari awal. Ibarat membaca buku, baca mulai dari halaman pertama sampai selesai di kesimpulan dari buku tadi. Jika jenis buku yang dimaksud adalah novel, maka akan ada alur cerita dari awal hingga akhir cerita (baik happy or bad ending).
Di buku karangan Pa Covey, beliau mencoba sedikit membalik paradigma kita (atau mungkin beliau mengajak kita untuk berpikir kreatif dalam menyikapi sesuatu). Pa Covey mengajak kita berfikir kretif. Dalam pernyataan di atas, memulai dari tujuan akhir akan berarti deduktif, dengan artian memecah sesuatu yang umum untuk penjabaran yang lebih khusus lagi.
Ibarat baca buku atau novel, berarti kita memulai dari bagian kesimpulan terlebih dahulu dan setelah itu baru kembali ke awal lagi. Maksud dari membaca kesimpulan kurang-lebih adalah untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dalam kisah dalam buku / novel tersebut..
Pa Covey mencoba ngebawa kita pada pikiran untuk melihat tujuan akhir kita sebelum memulai segala sesuatu. Setelah tujuan kita jelas, tinggal kita menyusun langkah-langkah dalam mencapai tujuan tersebut. Setelah itu, baru kita kembali ke awal untuk menjalankan langkah pertama dan selanjutnya. Nah, tujuan akhir kita sebagai penjabaran umum, sedangkan langkah-langkah dalam menggapai asa sebagai penjabaran khusus. Benar-benar sebuah pemikiran deduktif.
#curcolz (curhat colonganz)
Awalnya saya bingung setelah membaca pernyataan Pa Covey ini. Tidak kepikiran bahwa pernyataan tersebut merupakan pernyataan deduktif.. Luar biasa kretif. Benar-benar ga pernah berfikir untuk memulai segala sesuatu dari akhir. Dan ini memang untuk mengetahui tujuan akhir kita apa.
Pemikiran deduktif ini juga dapat mengembalikan tujuan awal kita melakukan sesuatu yang mungkin sudah samar-samar seiring waktu. Saat galau, kita tidak dapat melihat tujuan akhir kita, seperti tertutup kabut tebal. Samar..
Dengan mengingat tujuan akhir, ternyata hal tersebut dapat mengurangi tingkat kegalauan.. Kita tidak akan pernah lagi menyibukkan dengan hal-hal yang belum pasti dan belum terjadi.
Sekian.
Semoga bermanfaat.. :-)
Minggu, 04 Desember 2011
Ibu
Ribuan kilo jalan yang kau tempuh
Lewati rintang untuk aku anakmu
Ibuku sayang masih terus berjalan
Walau tapak kaki penuh darah penuh nanah
Seperti udara kasih yang engkau berikan
Tak mampu ku membalas
Ibu . . . . . . . . . . . . . ibu . . . . . . . . . . . . .
Ingin kudekap dan menangis dipangkuanmu
Sampai aku tertidur bagai masa kecil dulu
Lalu do'a-do'a baluri sekujur tubuhku
Dengan apa membalas
Ibu . . . . . . . . . . . . . ibu . . . . . . . . . . . . .
*Catatan kaki:
Memang, takkan ada yang mampu membalas kasih sayang seorang ibu. Bahkan, sekalipun kita tukar segunung emas dengan kasih ibu, maka itupun jauh dari cukup.
(ditulis tanggal 4 Desember 2011 / 8 Muharram 1432)
