Ada apa aja sih??

Tampilkan postingan dengan label Civil-Eng® Corner. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Civil-Eng® Corner. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 16 September 2017

Perencanaan Operating Platform dengan STAADPro

Yup.

Setelah beberapa waktu tidak posting mengenai teknik sipil, akhirnya rasa kangen itu muncul juga.
Tetapi posting-an kali ini buka tentang prosedur kerja atau cara perhitungan, tetapi tentang buku. Buku ini ditulis oleh Pa Budi Satiawan. Beliau merupakan insinyur sipil di PT Vico Indonesia, dosen pengajar di Universitas Muhammadiyah Jakarta dan pendiri sekaligus tutor pada lembaga pelatihan profesional ETOG (Engineering Traning for Oil and Gas).

Buku beliau kali ini versi gratis alias bebas pakai tanpa pungutan bayaran apapun; tetapi tetap, jika ada yang menyadur kutipan dari buku tersebut, tetap memperhatikan langkah-langkah menulis kutipan secara ilmiah. Pada seri kali ini, buku beliau akan membahas tentang tata cara perencanaan operating platform pada bangunan industri (mencakup industri minyak & gas, pupuk, kimia dan sebagainya) dengan menggunakan program STAADPro (untuk struktur atas) dan STAADFound (untuk struktur bawah).

Dalam buku tersebut juga akan dibahas konsep dasar perhitungan untuk struktur dan pondasi platform.

Tanpa perlu panjang lebar lagi, berikut link unduh materi buku tersebut:

Judul buku          : Step-By-Step Perencanaan Operating Platform Menggunakan STAAD.Pro dan STAAD.Found
Penulis                 : Budi Satiawan
Penerbit              : ETOG (Engineering Training for Oil & Gas)

Ukuran file          :  31 MB

Kamis, 28 Januari 2016

Rigging Engineering (Bagian Satu)

#CekCek
Setelah beberapa waktu nggak nulis di sini, akhirnya diberi kesempatan dapat mood yang pas tuk nulis.
:-)

#LangsungSaja.
Sesuai dengan judul di atas. Yup. Rigging engineering. Jikalau diartikan ke Bahasa Indonesia, maka arti secara bahasa kurang lebih adalah rekayasa pengangkatan.

Pengangkatan kok direkayasa?

Ya.
Untuk berbagai keperluan yang berkaitan dengan pekerjaan pengangkatan (biasanya berupa pengangkatan benda atau barang khusus), pekerjaan pengangkatan ini dapat dikategorikan sebagai pekerjaan yang berbahaya.
Singkat kata, pekerjaan pengangkatan ini harus direncanakan dan ketahui terlebih dahulu kemungkinan bahaya yang akan terjadi sebelum pekerjaan dilakukan.

Kenapa direkayasa sedemikian rupa? Tujuannya apa? Nggak langsung diangkat saja kah?

Yap.
Tujuan akhir dari rekayasa pengangkatan ini adalah untuk mewujudkan pekerjaan pengangkatan yang aman dan sesuai rencana. Pekerjaan yang aman akan meningkatkan produktifitas perorangan maupun komunal (perusahaan).
Bayangkan saja jika pekerjaan pengangkatan berlangsung secara tidak aman.
Maka dapat dipastikan perorangan yang terlibat dalam pekerjaan itu akan merasa cemas dan pada akhirnya akan mengaburkan fokus pekerjaan. Pekerjaan akan menjadi lebih lama dan tidak aman.

Memangnya apa saja yang diangkat dalam pekerjaan itu?

Apa saja.
Semakin besar benda yang diangkat, maka energi yang dibutuhkan juga semakin besar. Penggunaan energi yang besar ini lah yang harus direncanakan agar pekerjaan berlangsung aman.
Misal, energi untuk mengangkat satu kantung plastik gula seberat 1 kg akan jauh lebih sedikit dibandingkan dengan mengangkat tiga karung beras seberat 75 kg (berat masing-masing karung beras 25 kg).
Untuk mengangkat sekantung gula 1 kg, kita cukup menggunakan satu tangan saja. Energi yang dibutuhkan kecil.
Nah. Untuk mengangkat tiga karung beras yang masing-masing karung berbobot 75 kg, pastinya kebenyakan dari kita tidak akan cukup menggunakan satu tangan saja. Pikiran kita pasti langsung tertuju ke alat bantu untuk mengangkat karung beras tadi.
Entah itu pakai gerobag, troli atau alat bantu angkat yang lainnya.

Sama halnya dengan mengangkat benda yang lebih besar lagi.
Pastinya perlu dipertimbangkan hal-hal yang terkait dengan penggunaan energi untuk pengangkatan dan keamanan pengangkatan itu sendiri.

Pengangkatan Pesawat Terbang
(sumber gambar: http://www.offshore-technology.com/contractor_images/27474/images/238736/large/5-lift-engineering.jpg
)

 Seperti pada contoh gambar di atas, pesawat luar angkasa-pun masih memungkinkan sekali untuk diangkat dan kemudian dipindahkan lokasinya.

Coba perhatikan batang pengangkat yang berwarna biru-kuning di atas pesawat tersebut, batang tersebut memang sudah dihitung kekuatan dan panjang yang memadai untuk pekerjaan pengangkatan tersebut.

Dan coba perhatikan lagi sling baja yang terkait di batang pengangkat tadi. Sudut yang terbentuk dari sling tersebut juga sudah dihitung yang pastinya disesuaikan dengan titik gravitasi objek yang diangkat.

Satu lagi, jangan lupakan pula alat angkat yang digunakan dalam pekerjaan angkat tersebut.

Yaap.
Crane dengan kapasitas angkat tertentu digunakan untuk mengangkat pesawat tersebut. Kebutuhan crane juga telah dihitung sedemikian rupa agar memadai selama proses pengangkatan.

Selain alat dan kebutuhan akan alat angkat, perhatikan pula fokus yang tidak kalah pentingnya dari proses pengangkatan itu sendiri, yaitu keamanan.
Yup. Selama proses pengangkatan, keamanan juga harus dijadikan pertimbangan utama. Keamanan pekerjaan harus direncanakan untuk mengurangi kemungkinan terjadinya kecelakaan kerja dan kegagalan proses pengangkatan.

Perhatikan lokasi di bawah area pengangkatan.
Yaa. Tidak ada seorang-pun yang boleh berada di bawah objek yang diangkat.
Hal ini terkait dengan faktor keamanan tadi.

#Oke

Itu lah sekilas tentang proses pengangkatan.

Masih penasaran?

Tunggu bahasan selanjutnya.

Terima kasih.
Semoga bermanfaat..

Minggu, 04 Maret 2012

Hah?? Final Set?

#Ehmm..

Pernah dengar kata2 di bagian judul di atas?
Kira2 apa ya artinya??
Mungkin jika kita sedikit bergelut di dunia engineering pasti sudah tidak asing lagi dengan kata tersebut. Terlebih bagi mereka yang sudah terbiasa dengan suara bising alat / mesin pancang.

Duuuaaaang!!!.. Daaaaaanggg.. Duuuaaaaaang!!!.. (>.<) Agak sulit memang mendeskripsikan bagaimana bisingnya suara mesin pancang yang sedang beroperasi. #Yap.. Kata-kata "final-set" memang sudah sangat lumrah (karena suatu keharusan juga) dalam pekerjaan pemancangan tiang. Final-set merupakan tahapan paling terakhir dari sebuah pekerjaan pemancangan tiang.

(?) Terus tahapan pemancangan tiang itu apa saja yaa??

Sebelum beralih ke tahap akhir pemancangan,,mari kita bahas terlebih dahulu tahapan pemancangan dari awal. Heheee.. Jangan bosen yak.
Berikut tahapan-tahapan pemancangan tiang pondasi:

1. Pengangkatan tiang pondasi oleh mesin pancang.


Oiya,pengangkatan tiang pancang ga boleh sembarangan lho. Ada yang istilahnya "titik angkat tiang pancang". Nah, di sini lah operator mesin pancang harus mengikatkan kait tali baja untuk selanjutnya mengangkat tiang pancang dengan aman. Titik angkat tiang pancang itu dimaksudkan tidak lain adalah untuk mencegah keretakan tiang pancang dan cacat lainnya.

2. Pemancangan pondasi ke dalam tanah


Dari gambar di atas, dapat kita ketahui jenis mesin pancang yang digunakan yaitu jenis mesin pancang hidrolik (hydrolic drop hammer). Oiya, sebenarnya jenis-jenis mesin pancang itu beragam. Nanti akan kita bahas di sesi selanjutnya.. :-)

3. Penyambungan tiang pancang


Apabila dalam suatu kondisi, desain tiang pancang diharuskan mancapai pancang lebih dari 12 meter, maka salah satu solusi adalah dibuatkan sambungan pancang. Pemotongan tiang pancang tidak lain adalah untuk mempermudah mobilisasi tiang pancang beton dari pabrik pembuatan ke lokasi pemancangan.
Untuk Indonesia, tiang pancang 12 meter masih memungkinkan untuk diangkut dengan menggunakan trailer. Mungkin untuk daerah perkotaan dengan lokasi pemancangan dengan jalan masuk yang berliku, pemotongan tiang pancang dapat dilakukan lebih pendek dan memungkinkan untuk manuver selama mobilisasi.
Sambungan atau slice tiang pancang harus didesain ulang dan material sambungan juga harus direncanakan ulang karena pada bagian sambungan ini sangat dimungkinkan untuk terjadi konsentrasi stres yang berlebih, baik akibat hantaman hammer pancang ataupun beban statis bangunan sendiri. Inspeksi yang teliti harus dilakukan pada saat proses penyambungan tiang pancang ini.
Kesalahan dalam penyambungan juga dapat menyebabkan hal lain selain konsentrasi stres. Apabila penyambungan miring, maka dapat dipastikan hasil pemancangan akan miring dengan sudut tertentu dan konsentrasi stres akan lebih besar di daerah sambungan dan kepala tiang.

*Di posisi sebelah kanan ada pekerja yang tidak pakai helm. Itu contoh yang salah yaa dalam siklus pekerjaan pemancangan yang penuh dengan resiko ini..


Proses pengelasan sambungan dapat kita lihat dari gambar di atas.. ^^


Dari gambar di atas, kita dapat menyaksikan proses penyesuaian posisi sambungan tiang pancang agar tepat berada pada posisi penyambungan.

4. Memastikan vertikalitas tiang pancang


Seperti yang telah disinggung sebelumnya, kelurusan tiang arah vertikal juga menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan hasil akhir pemancangan tiang. Di dalam praktik lapangan, biasanya pekerja memastikan vertikalitas tiang dengan cara mengaitkan seutas benang ke penggantung dan pemberat. Kemudian menerawang tiang melalui seutas benang tersebut.

5. Mememancang kembali tiang.

Setelah proses penyambungan tiang dan pemeriksaan vertikalitas selesai, tiang pancang kembali dihantam dengan hammer pancang sampai kedalaman tertentu.

6. Pengunaan dolly

Dolly di sini merupakan sebutan suatu alat untuk membantu proses pemancangan apabila tiang pancang sudah sedikit tenggelam ke dalam tanah dan akan mencapai tanah keras.
Tiang pancang yang di-dolly harus merupakan tiang pancang yang sudah sedikit lagi mencapai tanah keras (dapat diketahui dari penurunan yang terjadi saat tiang dipancang, penurunan akan kecil) dan posisi tiang sudah berada pada level elevasi tanah atau sedikit tenggelam ke dalam tanah.


Pada gambar di atas, kita dapat melihat dolly yang sedang diangkat oleh mesin pancang. Sekedar info, massa dolly satu dolly sendiri dapat berkisar antara 2 - 3 ton dengan panjang dolly sekitar 3 - 4 meter.
Pekerjaan dolly sendiri aman sampai dengan kedalaman 2 meter, lebih dari 2 meter maka tiang harus disambung lagi (atau sesuai dengan keputusan field engineer di lapangan).
Maka dari itu, pekerjaan dolly sebisa mungkin dihindari oleh operator mesin pancang dan kru karena pekerjaan ini cukup memakan waktu.

7. Pengambilan final-set

Nah.. Inilah saat-saat yang ditunggu. Sesuatu yang berkaitan dengan judul di atas. Ya, final-set.. ;-)

Berikut final-set yang merupakan langkah terakhir dari proses pemancangan:



Itulah, proses pengambilan grafik final-set di 10 pukulan terakhir.
Pengambilan final-set merupakan proses kritis untuk menentukan kualitas pemancangan. Dan biasanya grafik ini yang menjadi acuan tim pengawas untuk memberikan penilaian terhadap pekerjaan pemancangan.



#Dan akhirnya..

Selesai sudah pembahasan kilat mengenai tahapan pemancangan dari proses pengangkatan tiang sampai pengambilan grafik final-set.

#Justshare
Semoga bermanfaat.. :-)





*Catatan kaki:
Seluruh foto-foto di atas penulis ambil saat penulis berada pada proyek:

Green Bay Superblock, Pluit, Jakarta Utara.
Pemilik: PT Kencana Unggul Sukses (grup Agung Podomoro Land)
Kontraktor: PT Total Bangun Persada, Tbk
Konsultan Pengawas: PT Jaya Construction Management
Sub-Kontraktor Pemancangan: PT Hammer Sakti and PT Pakubumi Semesta

Minggu, 18 Desember 2011

PEMBUATAN LANTAI KERJA

Dalam konstruksi bangunan dengan lingkup dan kondisi lingkungan yang cukup kompleks,pembuatan lantai kerja merupakan hal yang lumrah dilakukan.

Adapun fungsi dari pembuatan lantai kerja antara lain:
1. Memudahkan pekerja berdiri d atas lahan datar, lahan menjadi tidak kotor dan becek.
2. Merupakan dudukan besi lapis bawah (untuk pondasi rakit atau pile-cap.
3. Menahan gaya angkat (up-lift force) tanah di bawahnya.




Gambar di atas menunjukkan proses pembuatan lantai kerja atau biasa disebut juga lean concrete (LC).

Berikut langkah-langkah pembuatan lantai kerja:
1. Memastikan elevasi yang diperlukan untuk lantai kerja. Istilah ini lumrah disebut sebagai "levelling". Biasanya, ketebalan lantai kerja antara 10-15 cm.
2. Memasang pondasi cerucuk bambu. Jarak dan kedalaman cerucuk sangat bergantung pada kondisi tanah. Bila kondisi tanah buruk (N-SPT < 15, tanah lunak) maka cerucuk dapat dibuat lebih dalam dan jarak antar-cerucuk dapat lebih rapat. 3. Memasang plastik atau sekat sejenis. Fungsi pemasangan plastik adalah untuk membatasi lapis beton agar tidak bercampur dengan tanah. 4. Pembesian lantai kerja. Pembesian pada lantai kerja perlu untuk memperkuat lantai kerja agar cukup kuat menahan gaya tekan dan up-lift tanah. Penggunaan besi cukup dengan diameter kecil saja (cukup 8 mm) dan dapat menggunakan besi polos. Jarak penulangan dapat dibuat renggang (20-25 cm) sesuai dengan kebutuhan. Usahakan memakai besi-besi bekas potongan agar tidak terjadi waste besi yang berlebih.
5. Membuat bekisting di sekitar batas lantai kerja rencana.
6. Cor lantai kerja.




Gambar di atas merupakan proses pengecoran lantai kerja. Volume lantai kerja sebaiknya diambil seperlunya saja.

Apabila pada fase setelah pembuatan lantai kerja adalah pembuatan pondasi rakit atau mat-foundation, maka kemungkinan turunnya elevasi lantai kerja dapat terjadi. Apabila elevasi lantai kerja turun, maka saat pengecoran pondasi rakit, elevasi pondasi rakit juga akan turun mengikuti lantai kerja. Untuk menghindari penurunan elevasi lantai kerja, maka perlu dilakukan perkuatan lantai kerja. Biasanya, saat pembesian lantai kerja, terdapat besi yang diangkur melewati kepala tiang pancang. Langkah ini dapat menyumbangkan perkuatan tambahan bagi lantai kerja untuk menahan penurunan elevasi.

Selain penurunan elevasi, lantai kerja dapat pecah akibat gaya angkat tanah / up-lift yang berlebihan. Tanah akan mendesak lantai kerja ke arah atas. Penyebab-penyabab gaya angkat tanah akan dibahas pada bahasan yang berbeda. So, tunggu tanggal mainnya ya.. :-)

Sekian.
Semoga Bermanfaat.. ;-)

Ditulis tanggal 16 Desember 2011, selesai 18 Desember 2011 22:05.