Rabu, 28 Agustus 2013

"Jika kita menyerah, habislah sudah"
(Aitthipat Kulapongvanich, 2011)

Aitthipat Kulapongvanich merupakan pengusaha muda yang inspirasi perjuangannya menghadapi kehidupan diabadikan dalam film yang berjudul "Billionaire".

Minggu, 25 Agustus 2013

Tentang Sesuatu

Judul agak rancu?
Sedikit bingung akan judulnya?

Aaah. Yasudah lah.
Apalah arti sebuah judul. Walau menurut para ahli bahasa dan komunikasi sebuah judul dari bacaan memberikan peranan penting terhadap keseluruhan isi. Tidak lain dan tidak bukan karena judul merupakan awalan, pemikat dan memberikan kesan pertama.
Yaa. Kesan pertama, selanjutnya terserah Anda.. *lhoooh* Maksud saya, selanjutnya terserah kita mau melanjutkan baca isinya atau tidak. :-)
(Kok jadi bahas pengertian judul dari sebuah bacaan ya?)

Yaaaap.
Sudah. Sudah. Cukup sudah pembahasan introduksi tulisan ini tentang judul. Selanjutnya, ijinkan saya berlanjut ke bagian isi. Sebenanrya saya ingin menceritakan ulang tentang sesuatu. Ya, tetang sesuatu. Tentang salah satu ketetapan Tuhan yang sudah PASTI. Sebagaimana yang kita ketahui, setidaknya ada tiga ketetapan Tuhan yang pasti, yaitu REJEKI, JODOH dan MATI. Haah? Mati?
Waduh. Jangan panik dulu Masbro n Mbasis. MATI itu kan pasti juga. Tapi kali ini saya ingin bahas tentang jodoh kok. Bahas yang sejuk dulu yak.

Yaah.. Palingan nulis curhatan ya? Atau menumpahkan segala kegalauan di media blog?
Hmm.. Sebentar. Sebentar.

Yap.
Tenang dulu Masbro n Mbasis. Saya akan coba membahas se-objektif mungkin. Saya akan coba pilah antara objektivitas dengan curahan hati pribadi.
Tapi jika ada tersisip sedikit curahan hati, harap maklum ya.. :-)

Oke.
Pembahasan jodoh memang cukup seru. Langsung saja. Jodoh merupakan anugerah terindah dari Tuhan dan sekaligus misteri yang belum terpecahkan kecuali kita memang ingin sekali memecahkan misteri tersebut alias menikah. Bahkan setiap orang punya jalan masing-masing dalam bertemu dengan jodohnya. Saya yakin itu. Tiap orang pasti punya cerita tersendiri perihal pertemuan dengan kekasih / istri. Lika-liku jodoh memang sampai tulisan ini dibuat belum saya pecahkan sendiri. Tapi hasil selidik dari rekan dan teman, jodoh itu memang misteri Tuhan. Tapi seandainya misteri tersebut tidak segera dikuak, maka misteri akan tetap jadi misteri. Sama halnya dengan jodoh, apabila jodoh hanya sebatas teori dan rencana, maka tanpa penjemputan, jodoh akan sebatas angan dan ingin. Maksudnya, jodoh memang harus dijemput. Saya juga sedang menasehati diri saya sendiri untuk segera melakukan itu, ya menjemput jodoh.

Jodoh hanya akan menjadi sebatas asa dan ingin apabila tanpa eksekusi nyata. Misal, saya ingin si A menjadi jodoh saya dan berharap kelak si A menjadi pasangan hidup saya sampai akhir hayat. Nah, itulah yang kita namakan sebagai ingin dan asa. Baru langkah awal dari sekian langkah yang Tuhan wajibkan dalam rangka menjemput jodoh. Masih ada beberapa langkah lagi. Langkah nyata pastinya.

Berikut cerita menarik antara si B dan si C. Penasaran? Yuk dilanjut bacanya.
Ada suatu ketika seseorang tertarik dengan lawan jenis. Katakan lah si B (laki-laki) tertarik terhadap si C (perempuan). Si B ini dapat berniat baik, tapi tidak menutup kemungkinan juga untuk berniat buruk. Asumsikan si B ini berniat baik untuk segera menghalalkan hubungan merekan atau singkat kata, si B ingin sekali memperistri C. Si B sudah memenuhi langkah pertama, yaitu ingin dan asa. Ada keinginan dan harapan untuk suatu niat yang baik (menikah). Ternyata B ini seorang pemalu dan sekalipun si C lebih berani, tetapi C ingin memberi kesempatan B untuk menyatakan niat terlebih dahulu ke orang tua C. Menurut saya, belum lazim dalam budaya Indonesia apabila pihak C menyatakan niat terlebih dahulu (apa yang tidak lazim itu belum tentu salah atau dilarang ya).
Sebenarnya tidak salah dan tidak terlarang apabila pihak C yang menyatakan terlebih dahulu, hanya saja mungkin masih belum lazim.

Yaaap.
Lanjut ke cerita si B.
Di balik sifat malu si B, ternyata si B memang benar-benar berniat memperistri si C. Usut punya usut, usaha si B untuk memperistri si C terhenti hanya sebatas ingin dan asa. Langkah konkrit dan doa terbaik belum dilakukan B. Si B hanya usaha ringan (yang lebih ke arah usaha setengah-setengah) dan doa ala kadarnya.
Usaha B yang setengah-setengah itupun akhirnya dipandang sekilas oleh C sebagai usaha main-main atau tidak serius. Akhirnya, C memberikan nilai R alias ragu-ragu ke buku rapor B. Berlanjut ke doa, doa B-pun masih doa ala kadarnya. Doa yang seharusnya berharap kepada Tuhan agar jodoh diperjelas. Sehingga apabila dia jodoh kita, mohon lah untuk didekatkan dan disegerakan agar menjadi halal. Tetapi apabila dia bukan jodoh kita, tetaplah berharap. Berharap agar ditunjukkan orang lain yang memang jodoh kita. Dan seharusnya B melakukan doa ini sebagai awalan (masih banyak amalan lain sebagai persiapan menuju penjemputan jodoh). Tetapi B hanya melakukan
doa yang ala kadarnya. Usaha si B terkesan meragukan dan doa-pun ala kadarnya. Tugas si B memang berat dalam menjemput jodoh yang entah di mana adanya dan akan bertemunya. Bagi B, jodoh akan tetap menjadi misteri tanpa usaha untuk menguak misteri tersebut.

Tanpa merubah pola penjemputan jodoh, si B akan tetap menganggap jodoh itu misteri dan pastinya akan terlampau sulit bagi B untuk mendapatkan pasangan hidup. Karena Tuhan sudah menentukan jodoh tiap orang, tinggal kita saja yang berusaha untuk menjemput jodoh kita itu. Bahkan Tuhan sampai berpesan bahwa Tuhan tidak akan merubah kondisi suatu kaum (seseorang) sehingga mereka akan merubah keadaan yang ada dalam diri mereka sendiri.Termasuk usaha untuk menjemput jodoh, Tuhan tidak akan memperjelas jodoh kita sampai kita berusaha mencari petunjuk akan jodoh tersebut.
Dan banyak lagi cerita tentang dimudahkannya usaha seseorang yang sudah siap dan pantas untuk menjemput jodoh. Usaha mereka sungguh-sungguh dan benar-benar dimudahkan Tuhan.

Seperti pada paragraf sebelumnya, sebenarnya saya masih punya bebarapa contoh cerita dari kerabat yang telah mengalami langsung kejadian seputar penjemputan jodoh. Tetapi untuk kali ini, ijinkan saya membagi satu dari sedikit cerita di atas tentang penjemputan jodoh.

Saya akan coba tulis sedikit cerita yang berbeda terkait penjemputan jodoh di lain sesi.

Semoga bermanfaat.. :-)

Sabtu, 24 Agustus 2013

Catatan Tentang Sahabat

Aji Eko Priyanto, Ricky, Intan Shielqi Farah, Singgih Sri Kartiko, Evan, Garry Riskiandy Putra.

Umur tak ada yang bisa menyangka batasnya, kematian tak satu orangpun yang mampu menolaknya atau menundanya.
Semua jelas atas kendali Tuhan Yang Maha Suci.
Bahkan menit ataupun detik selanjutnya sama sekali tidak ada jaminan kelanjutan umur manusia, bahkan dengan analisis mendalam dari ahli sekalipun.
Manusia berencana, Tuhan Yang Maha Menentukan.

Hidupun bukan hari ini saja, segalanya harus berlanjut.
Perencanaan manusia tidak lebih hebat dari jatuhnya daun kering dari ranting tersebab hembuan semilir angin.
Karena kita tak mampu memperkirakan dengan pasti kapan saat-saat daun tersebut jatuh karena tertiup angin.
Manusia berencana, Tuhan Yang Maha Menentukan.

Pasti sebagian besar dari kita pernah mempunyai rencana untuk hidup sampai uban memenuhi kepala kita.
Pasti sebagian besar dari kita punya perencanaan mendetail tentang bagaimana hidup kita nanti.
Terlalu mainstream? Oh, belum tentu.
Karena bahkan ada sebagian dari kita yang berpedoman "let it flow", biarkan (hidup ini) mengalir apa adanya.
Karena ada pula yang berpandangan "muda foya-foya, tua kaya-raya, mati masuk-surga" (hmmm....).
Manusia berencana, Tuhan Yang Maha Menentukan.

Kematian memang datang tanpa diketahui manusia siapapun.
Kematian tidak pandang usia, jabatan, kedudukan, status, ras, agama, suku dan jenis kelamin.
Tidak ada seorang ahli ternama yang dapat memprediksi kedatangan malaikat maut.
Mungkin petanda-petanda kedatangan kebanyakan disadari setelah kejadian terjadi.
Manusia berencana, Tuhan Yang Maha Menentukan.

Sekali lagi..
Manusia berencana, Tuhan Yang Maha Menentukan.

* Tulisan ini dibuat atas dasar kepergian beberapa sahabat yang lebih dulu melanjutkan kehidupan di alam lain. Karena sejatinya mereka masih hidup, ruh mereka yang tetap hidup dan melanjutkan kehidupan di alam lain. Usia mereka antara 21 - 25 tahun. Masih dini menurut saya.
Semoga kalian diberi kelapangan dan keterangan dalam alam barzah.

Minggu, 18 Agustus 2013

" ... Orang yang hebat tidak dihasilkan melalui kemudahan, kesenangan dan kenyamanan. Mereka dibentuk melalui kesukaran, tantangan dan air mata"
(Dahlan Iskan)

Minggu, 14 April 2013

Inilah Sebuah Permulaan

Yaa..

Sebuah permulaan. Yang rasa-rasanya permulaan itu harus berada paling awal, paling pertama ataupun paling dasar. Tapi khusus untuk permulaan ini, saya maksudkan tak lebih dari permulaan yaang baru dan berbeda dari sebelumnya.

Saat masa-masa sekolah dulu, kawan satu sekolah memakai seragam yang sama setiap harinya, nyaris tanpa perbedaan. Setelan putih - biru (saat SMP) ataupun setelan putih - abu2. Semua murid memakai seragam itu saat bersekolah, tanpa kecuali. Termasuk para guru. Tak tertinggal, bapak dan ibu guru-pun memakai seragam tiap kali mengajar. Sekolah mengajarkan dan mendidik kesetaraan buat para murid. Benar-benar nyaris tanpa perbedaan. Tak nampak si A itu dari keluarga berlebih, menengah ataupun kekurangan.

.

Masuk ke dunia kampus, dunia yang awalnya ku kira tak beda jauh dengan dunia "putih - abu2" yang sebelumnya ku jalani. Ternyata, dunia kampus memperlihatkan perbedaan dari berbagai sisi. Mulai dari pakaian, tempat tinggal sampai cara bersosialisasi. Sungguh berbeda. Bahkan ada kawan yang memberikan pernyataan jikalau dunia kampus itu "miniatur masyarakat".
Ya, miniatur masyarakat. Tak lain bahwa kampus mampu menggambarkan kondisi masyarakat yang sebenarnya tetapi dengan lingkup yang lebih kecil dan sederhana.

.

Yaap..
Setelah lulus kuliah, tiba saatnya mengembara di "dunia yang sebenarnya". Dunia yang benar-benar jauh berbeda dari dunia sekolah. Mendekati model dunia kampus dengan tambahan kerumitan. Lepas dari pergulatan dengan buku, kini saya harus berhadapan dengan sesama. Manusia dengan keberagaman akal, pola pikir, tingkah laku dan keunikan lainnya. Ya, inilah sebuah permulaan seseorang mulai menjadi anggota masyarakat seutuhnya. Berbaut dengan masyarakat dan mempunyai kedudukan hukum yang sama.

Gesekan dan perbedaan cara pandang ataupun pola pikir sangat lumrah terjadi dalam masyarakat. Manusia dengan segala keunikan yang Tuhan karuniakan kepada kita memang menjadi sumber perbedaan yang ada. Benar menurut saya, belum tentu benar menurut Anda. Salah menurut suatu kelompok, belum tentu salah menurut kelompok lain. Itulah perbedaan. Tapi Maha Suci Tuhan dengan segala firman-Nya, Dia menurunkan aturan agar semua perbedaan disatukan menurut aturan Tuhan.

Yaap.
Perbedaan ini memang harus saya jalani. Tidak boleh dilewatkan (dan memang tidak bisa). Perbedaan pola pikir yang kadang memicu perbedaan di bidang lainnya. Problematika yang terjadi dalam masyarakat yang terkadang tercampuri oleh urusan pribadi. Perasaan dan ego bermain. Walau kadang terjadilah debat yang tanpa selesai dan minim manfaat.

Yaa..
Itulah sebuah permulaan untuk menjadi dan diterima sebagai anggota masyarakat.

:-)

#semogabermanfaat

Jumat, 15 Maret 2013

Melintasi Tepi Musi

Tepat saat tanggal di kalender menunjukkan 10 Maret 2013. Tepat di hari Minggu. Memang bukan hari yang istimewa. Tidak ubahnya hari minggu yang lain. Tapi ada sedikit yang membedakan, kami dapat "libur" di hari Minggu.
Yaa.
Kami dapat "libur" di hari Minggu. Libur dalam rangka memenuhi undangan. Hari Minggu kami masih harus masuk bekerja. Bukan karena keinginan, tapi lebih ke arah tuntutan perjanjian kerja yang telah kami setujui.
Berikut sedikit perjalanan kami di hari Minggu:

0617
Persiapan dari mess kami tercinta. Lokasi tepat di tepi Jalan Lintas Timur Palembang - Jambi, Babat Supat, Sungai Lilin, Banyuasin, Sumsel. Tempat yang sebagian besar wilayahnya diselimuti rawa (swamp area).

1030
Sampai dilokasi kondangan.
Silaturrahim dengan sang mempelai sambil menghabiskan jatah makan siang di meja.

1630
Merapat di tepian Sungai Musi.
Menuju Pulau Kemaro.
Menjelajah tepian Sungai Musi dan menilik Pabrik Pupuk Sriwidjaja.

Senin, 04 Maret 2013

Bahagia Itu Sederhana

"Bahagia itu sederhana dan bukan suatu hal yang harus dipersulit pencapaiannya"
(Pringga S. Panji, 2013)