Minggu, 25 Mei 2014

The North-Shore

Sebenarnya, olahraga sepeda gunung itu bermula di mana yaa?

Yaaap.
Sekilas pertanyaan di atas menjadi seakan sepele dan mungkin saja terlewat oleh sebagian dari kita yang sering mengayuh pedal sepeda model sepeda gunung (mountain bike / MTB). Pada dasarnya, pertanyaan di atas terkait erat dengan sejarah atau asal-muasal sepeda gunung. Kilas balik ke beberapa tahun belakang, sembari melakukan nostalgia revolusi sepeda baik dalam segi geometri maupun kelengkapan sepeda.

North-shore!!
Apa? North-shore?? Apakah itu suatu istilah atau nama tempat?
Mungkin penggila sepeda gunung tidaklah asing lagi dengan kata tersebut. Yaa. Tidak lain karena North-shore merupakan nama suatu distrik / kawasan sub-urban (daerah pinggiran kota) dari kota Vancouver, Kanada. Vancouver sendiri merupakan kota besar yang berada di negara bagian British-Columbia, Kanada. Sebagai pemisalan, Vancouver sebagai Jakarta dan North-Shore sebagai Depok atau Bogor. 

Yaaap, North-shore adalah kiblat sepeda gunung di seluruh dunia. Dari sini lah revolusi “sepeda biasa” menjadi sepeda gunung berasal. Revolusi dari segi geometri rangka sepeda, sistem peredam kejut, sistem pengereman sampai teknik bersepeda gunung.

“The North-shore suburbs of Vancouver, British Columbia are a world-reowned mecca for mountain biking” (Wikipeda)

North-shore, cukup banyak jalur off-road yang ditawarkan di wilayah ini. Variasi jalur off-road juga cukup mewakili teknik dan spesifikasi sepeda gunung.
Yaaap. North-shore!!!

Semoga bermafaat.
J


Minggu, 04 Mei 2014

Keep Moving Forward!!

"Keep moving forward, karena terkadang halangan itu bisa jadi hipotesa diri sendiri untuk berhenti"

(Risa Suseanty, Atlit Sepeda Downhill Indonesia, 2013)

Jumat, 02 Mei 2014

Sepeda, Riwayatmu Kini

Yaap..

Akhirnya bisa mengumpulkan niat menulis lagi. Walaupun setelah sekian lama ndak nulis.
Langsung saja, topik tulisan kali ini tidak terlalu berat ataupun formal.
Cukup mengambil topik ringan dan santai. Apa itu?
Ya, tentang dunia roda dua. Sepeda!!!

Sejujurnya, jikalau dibahas habis, pembahasan sepeda tidak akan cukup diketik dalam semalam suntuk. Untuk itu, untuk kali ini. Akan kami coba sedikit kupas tentang jenis-jenis sepeda berdasarkan tingkat kenyamanan-nya, yaitu ketersediaan suspensi atau peredam kejut.

Ditilik dari tingkat kenyamanannya, sepeda dibagi menjadi 3 (tiga), yaitu:

1. Sepeda Rigid (Kaku)

Sumber: http://www.republika.com

Sumber: http://www.gazelle.nl

Sumber: http://www.lookcycle.com


Sepeda jenis ini tidak mempunyai sistem suspensi / peredam kejut. Getaran dari roda diserap dalam jumlah yang sangat sedikit oleh fork (garpu depan), chain-stay (lengan belakang) dan rangka sepeda. Sebagian besar getaran oleh karena medan yang dilewati akan diteruskan ke tubuh pengendara sepeda rigid. Contoh dari sepeda rigid adalah sepeda onthel, BMX, fixie dan sepeda jalan raya / aspal. Sepeda rigid ini juga menjadi cikal bakal berkembangnya sepeda dengan sistem peredam kejut.

(++)
Sepeda jenis ini menawarkan efesiensi gowesan yang memukau. Sebagian besar energi gowesan tersalur sempurna ke roda. Pedalling efficiency paling tinggi terdapat di sepeda jenis ini. Sepeda jenis ini mempunyai bobot paling ringan di antara jenis sepeda yang lain, bahkan ada sepeda balap jalan raya dengan bobot hanya 3 kg saja. Tidak lain dan tidak bukan dikarenakan konstruksi yang sederhana dan penggunaan part tambahan yang lebih sedikit. Sepeda jenis rigid biasa diaplikasikan untuk keperluan gowes di jalan raya (road bike).

(--)
Untuk aplikasi off-road, sepeda rigid masih memungkinkan dengan beberapa keterbatasan, yaitu tingkat kestabilan yang rendah saat melintasi medan rusak.

2. Sepeda hardtail
Sumber: http://www.commencal.com.au


Sumber: http://www.orangebikes.co.uk


Setelah berevolusi, sepeda rigid mulai dimodifikasi dengan menambahkan sistem peredam kejut. Salah satu sistem peredam kejut yang banyak digunakan untuk beberapa merk sepeda adalah hardtail. Yaap!!
Mungkin ada dari kita yang bertanya kenapa disebut dengan sebutan "hardtail" atau jikalau diartikan dalam bahasa Indonesia akan menjadi "buntut keras"?

Yaa.
Seperti itulah adanya, sepeda jenis hardtail ini memang hanya menggunkan sistem suspensi untuk bagian fork (garpu sepeda) saja. Bagian buritan tetap dibuat sebagai rigid, tanpa suspensi. Suspensi bagian depan sepeda ini menggunakan sistem peredam kejut sping (per logam) ataupun sistem udara. Untuk jenis-jenis suspensi sepeda, akan kami bahas kemudian.

(++)
Sepeda hardtail mampu menyerap getaran di area garpu depan. Karena area garpu depan mampu meredam getaran, kontrol dan traksi ban depan dapat disesuaikan dengan keinginan pengendara. Kendali sepeda akan jauh lebih mudah saat melewati lintasan yang tidak halus atau lintasan off-road.
Sepeda jenis ini sangat lumrah untuk aplikasi off-road dan terdapat dalam sebagian besar sepeda jenis MTB (mountain bike, sepeda gunung).

Bobot sepeda hardtail berada di antara bobot sepeda rigid dan full-suspension, yaitu berkisar antara 11-13 kg.

(--)
Untuk aplikasi MTB, sepeda ini mempunyai keterbatasan pada tingkat kecepatan yang masih aman. Terlebih untuk medan menurun, sepeda ini mempunyai keterbatasan pada pengendalian pada kecepatan tinggi. Dikarenakan bagian buritan rigid, pada saat medan off-road menurun, bagian burutan akan menjadi bouncy (membal) dan merubah center of gravity (titik keseimbangan) sepeda lebih ke arah depan. Titik keseimbangan ke arah depan pada saat medan turunan akan sangat berbahaya karena potensi terjungkal akan semakin besar.

3. Sepeda Full-Suspension
Dari tingkat kenyamanan, sepeda jenis full-suspension (fulsus) ini menjadi primadona untuk aplikasi off-road.

Sumber: http://www.dirtmountainbike.com


Sumber: http://www.pinkbike.com


Sumber: http://www.pinkbike.com


Sepeda full-suspension mengaplikasi sistem suspensi penuh untuk sumber getaran, yaitu roda depan dan roda belakang. Terinspirasi dari sistem suspensi sepeda motor, beberapa pabrikan sepeda kemudian mengembangkan sistem suspensi untuk sepeda.

Area fork depan dan segitiga belakang dilengkapi dengan suspensi per maupun suspensi udara. Kontrol dan traksi ban depan maupun belakang dapat disesuaikan dengan keinginan pengendara. Dalam sepeda sistem hardtail, area fork depan dapat dikendalikan. Tetapi dalam kecepatan tinggi di jalan rusak, bagian belakang sepeda akan menjadi liar tidak terkendali, terkarena sepeda hardtail tidak memiliki sistem suspensi belakang.

(++)
Sistem suspensi kemudian diperbaiki dengan menambahkan suspensi belakang. Saat melintasi jalan off-road, sepeda suspensi penuh mampu meredam getaran roda depan dan belakang. Dalam kecepatan tinggi di lintasan off-road, kendali sepeda jenis ini sangat mumpuni. Terlebih lagi pada saat melintasi medan turunan dengan kecepatan tinggi, sepeda jenis ini menawarkan stabilitas yang lebih baik untuk area buritan.

(--)
Oleh karena adanya penambahan suspensi belakang, sepeda jenis ini mempunyai part tambahan untuk menghubungkan suspensi belakang dengan rangka segitiga depan. Dengan speksifikasi material yang sama, sepeda full-suspension mempunyai bobot paling berat di antara sepeda rigid dan hardtail. Bobot sepeda full-suspension berkisar antara 13-21 kg.

...

Yaap.
Cukup sekian sedikit berbagi ilmu mengenai jenis-jenis sepeda berdasarkan tingkat kenyamanan berkendaranya.
Kami akan bahas beberapa hal terkait sepeda di topik lain.

Semoga bermanfaat..
:-)

Minggu, 20 Oktober 2013

Smart Village


Satu kata untuk gambar di atas: SALUTE!!!

Yaa.
Secara tidak sengaja saya mengabadikan gambar panel surya di sekitaran lokasi Desa Sungai Lilin, Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan.

Desa yang berjarak sekitar 30 menit (perjalanan darat dengan mobil) dari Jalan Lintas Sumatera. Lokasi desa tersebut cukup terpenci dengan jalan akses kurang memadai. Masyarakat tidak mendapatkan aliran listrik dari PLN. Saat malam menjelang, mereka mengandalkan aliran listrik dari genset kolektif. Mereka iuran untuk biaya solar dan perawatan genset setiap bulan. Genset hanya menerangi rumah mereka hingga pukul 12 malam atau kurang dari itu. Sampai subuh, mereka tidur dengan penerangan dari baterai atau petromak. Cukup mahal.

Untuk itulah muncul inisiatif warga setempat untuk menggunakan energi tak terbatas dari matahari. Pengadaaan panel surya beserta perlengkapan pendukungnya tak lepas dari bantuan Pemerintah Daerah Musi Banyuasin. Pemerintah setempat memberikan semacam insentif untuk tiap rumah yang menggunakan panel surya ini.

Saat siang, peralatan listrik dihidupkan melalui tenaga listrik yang disuplai dari panel surya ini. Mereka menyiapkan baterai untuk menyimpan listrik yang berlebih pada siang hari. Kelebihan listrik tersebut mereka gunakan untuk kebutuhan listrik di malam hari. Listrik simpanan tersebut cukup untuk menghidupi 1 unit TV (untuk sekitar 2 jam saja) dan 2 unit lampu hemat energi (10 W per lampu) dari selepas isya hingga sebelum subuh. Jumlah suplai listrik berbanding lurus dengan jumlah dan kualitas baterai. Genset hanya menjadi cadangan listrik saja.

Inspiratif.

Mungkin tidak belebihan jikalau saya menyebut desa ini sebagai desa pintar. Yaa. Desa Pintar atau Smart Village. Sangat dianjurkan untuk ditiru, terutama untuk daerah perkotaan yang jauh lebih "rakus" listrik.

Semoga bermanfaat.. :-)

It's Life

When things go wrong, as they sometimes will,
When the road you are trudging seems all uphill,
When the funds are low and the debts are high,
And you want to smile but you have to sigh,
When care is pressing you down a bit.
Rest if you have to, but don't you quit.

It is life.
Rest if you have to, but don't quit.
Stay on the right path, journey is still laying on toward.

(Original writer is unknown, modified by Karabiner, 2013)

Senin, 09 September 2013

“Certain things in life simply have to be experienced -and never explained.
Love is such a thing.”

(Paulo Coelho , Maktub)

Sabtu, 31 Agustus 2013

Aset Dalam Hidup

Perjalanan jika hanya sekedar berpindah tempat dari suatu tempat ke tempat lain sepertinya akan terasa hambar, tanpa rasa.
Kecuali jikalau kita mengisinya dengan suatu yang lain, yang bermanfaat tentunya.

Yaaap.
Terkait dengan judul, dalam perjalanan saya dari Jakarta ke Palembang, saya secara tidak sengaja berkenalan oleh seorang bapak yang bernama Pa Iskandar. Kebetulan beliau satu pesawat dengan saya dan satu baris tempat duduk. Tepatnya tertanggal 24 Agustus 2013 saya mendapati perjalanan Jakarta - Palembang yang rutin saya lalui setidaknya sebulan sekali menjadi terasa berbeda dari perjalanan sebelumnya.

Kembali ke Pa Iskandar.
Pa Iskandar ini sangat cair dengan orang baru. Mudah kenal, mudah bergaul dan tanpa kaku. Itu kesan pertama saya. Tapi ada kemungkinan lain. Beliau ini memang cukup senior, dia sudah masuk masa pensiun. Sudah tidak bekerja dan mulai aktif di kegiatan politik. Mungkin dikarenakan
sudah cukup berumur, Pa Iskandar sudah biasa menghadapi orang baru seperti saya ini. Awal cerita, kami berkenalan dan bertanya mengenai tempat tinggal kami, asal usul sampai tujuan keberangkatan kami ke Palembang. Dan sampai saat saya mengatakan tujuan saya ke Sungai Lilin (nama salah satu kelurahan di kabupaten Musi Banyuasin Sumsel), dia langsung menyodorkan kartu nama kerabatnya yang akan menjadi calon anggota DRPD Sumsel daerah pemilihan 1 (termasuk kabupaten Musi Banyuasin di dalamnya) perihal meminta bantuan kenalan orang asli Sungai Lilin untuk mendukung kerabatnya tersebut. Tapi fokus pembahasan saya bukan di kerabat Pa Iskandar yang ingin menjadi calon legislatif. (Huuuft, sudah panjang-panjang kok tidak jadi dibahas ya?)

Yaaap.
Singkat cerita (padahal pembukaan saja sudah dua paragraf sendiri, kok masih saja dikatakan singkat ya?). Oke. Lanjut. Pa Iskandar ini sampai pada pernyataan dengan nada menasehati dari tetua kepada yang muda (dan saya selalu bersyukur apabila dapat nasihat dan dengan antusias mendengarkan). Dia mangatakan bahwa hidup bagi dia adalah sederhana. Nah, bagian ini yang ingin saya sedikit jabarkan.
Berikut kutipan Pa Iskandar:
"Hidup itu sederhana. Bagi saya hidup harus memiliki tiga aspek yang wajib dipenuhi: kesehatan (jiwa dan rohani), keuangan (penghidupan) yang cukup dan teman
(kolega atau kerabat). Titik"
(Iskandar, 2013)

Mantap.
Itu lah ucapan batin saya mengiyakan apa yang dikatakan Pa Iskandar ini. Ketiga aspek tersebut sudah meliputi keseluruhan aspek kehidupan. Nah, ketiga aspek ini lah yang ingin saya coba sedikit kuatkan makna dari apa yang sudah diucapkan Pa Iskandar tadi.

Oke.
Aspek pertama tadi yaitu kesehatan. Menurut P Iskandar, kesehatan tidak hanya kesehatan raga, tetapi jiwa dan rohani-pun wajib mendapatkan "sarapan" agar tetap sehat dan bugar. Betapa banyak orang-orang di sini (manusia Indonesia) yang memiliki badan tegap, masih bisa berjalan, berdiri, berinteraksi dan lainnya, tetapi jiwa dan rohani mereka kosong. Akhirnya mereka bagai "badan tak bertuan". Karenanya, banyak kejadian-kejadian ataupun penyelewengan demi penyelewengan yang terjadi di NKRI. Tidak lain dan tidak bukan adalah akibat dari badan yang pemilik atau tuannya sudah lemah atau tidak ada sama sekali.

Lanjut.
Aspek kedua. Masih menurut Pa Iskandar, aspek keuangan atau finansial mendukung kelangsungan hidup kita. Aspek keuangan tidak harus benar-benar berbentuk uang nyata, tetapi dapat berbentuk yang lain (misalnya aset tanah dan lainnya). Setiap orang dapat bervariasi kebutuhan akan aspek yang satu ini. Memang banyak pendapat bahwa aspek ini merupakan aspek sensitif bagi kebanyakan orang. Seorang kaya lumrahnya membutuhkan aspek ini lebih dari orang lain. Tetapi ada juga seorang kaya yang tidak terlalu mementingkan aspek ini. Dan ada pula seorang yang kekurangan justru mementingkan aspek ini di atas aspek lainnya dengan kebutuhan yang lebih dari biasanya. Semua kembali ke preverensi masing-masing.

Dan terakhir (menurut Pa Iskandar).
Aspek teman. Di sini, posisi teman adalah luar biasa penting. Pastinya kerabat / kolega / teman yang bisa saling "push" atau saling dorong untuk mencapai perbaikkan diri. Bukan kerabat yang mendorong kita ke jurang nista. Ayah saya juga berkata bahwa sahabat itu aset yang perlu dijaga. Jangan pernah menghiraukan sahabat atau teman. Saya yakin bahwa semua dari kita pasti butuh teman atau sahabat. Karena saya-pun merasakan kedahiran dan eksistensi teman dan sahabat saya.

Yaaap.
Itu lah sedikit makna yang mampu saya intisari-kan dari hasil pembicaraan singkat selama kurang lebih satu jam dalam kabin. Singkat dan sederhana.
Karena seperti itulah hidup.

Semoga bermanfaat.. :-)